Netanyahu Ketar-ketir, Bukan Cuma Iran, Muncul Raksasa Baru yang Siap Kepung Israel?

2 hours ago 8

Oleh : Fahmi Salim, Direktur Baitul Maqdis Institute

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Peta kekuatan di Timur Tengah kembali bergerak. Di tengah konflik berkepanjangan dan ketegangan yang terus meningkat, muncul wacana tentang terbentuknya poros baru yang disebut-sebut sebagai “Poros Sunni”, melibatkan negara-negara seperti Arab Saudi, Turki, Mesir dan Pakistan. Wacana ini bukan sekadar spekulasi, melainkan refleksi dari dinamika strategis yang sedang berubah di kawasan.

Di sisi lain, Benjamin Netanyahu melihat perkembangan ini dengan kewaspadaan tinggi. Selama ini, fokus utama Israel adalah menghadapi pengaruh Iran yang memimpin apa yang sering disebut sebagai “poros Syiah”.

Namun kini, kekhawatiran tampaknya melebar. Bukan hanya Iran yang dianggap sebagai tantangan, tetapi juga potensi konsolidasi kekuatan negara-negara Sunni yang selama ini cenderung berjalan sendiri-sendiri.

Dalam konteks itu, muncul upaya Israel membangun jejaring aliansi yang lebih luas, melibatkan negara-negara di luar Timur Tengah seperti India, Yunani, dan Siprus, serta sejumlah mitra di kawasan Arab dan Afrika (UEA, Somaliland dan Uganda). Sering disebut sebagai Aliansi Enam. Tujuannya jelas: menciptakan keseimbangan baru yang dapat mengimbangi potensi blok-blok regional yang berkembang.

Namun, yang lebih menarik justru perubahan arah di dalam dunia Arab sendiri. Dalam beberapa tahun terakhir, kebijakan luar negeri Arab Saudi menunjukkan fleksibilitas yang semakin tinggi.

Ketegangan dengan Uni Emirat Arab, khususnya dalam konteks konflik Yaman dan persaingan pengaruh di kawasan Laut Merah dan Tanduk Afrika, menjadi salah satu faktor yang mendorong Riyadh meninjau ulang strategi lamanya.

Jika sebelumnya pendekatan Saudi cenderung konfrontatif terhadap kelompok atau aktor tertentu seperti Ikhwanul Muslimin di Mesir, Suriah, Sudan dan Yaman, kini terlihat kecenderungan untuk membangun kembali komunikasi dan bahkan rekonsiliasi dengan pihak-pihak yang dulu dianggap lawan.

Langkah ini bukan tanpa alasan. Dalam lanskap geopolitik yang semakin kompleks, menjaga kepentingan nasional sering kali menuntut fleksibilitas, bahkan jika itu berarti mengubah posisi lama secara signifikan.

Dalam dinamika yang sama, Turki muncul sebagai pemain kunci. Di bawah kepemimpinan Recep Tayyip Erdoğan, Ankara semakin aktif memperluas pengaruhnya, baik secara diplomatik maupun ekonomi.

Sebagian kalangan di Israel bahkan mulai melihat Turki sebagai tantangan strategis baru, bukan hanya karena posisinya di kawasan, tetapi juga karena potensinya membangun kerja sama lebih erat dengan negara-negara lain, termasuk Pakistan yang memiliki kapasitas militer signifikan.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Politics | | | |