REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Indonesia menunjukkan kapasitas kuat sektor pertanian nasional dengan menembus pasar ekspor sekaligus menyalurkan bantuan kemanusiaan ke luar negeri. Ini tecermin dari ekspor perdana beras premium 2.280 ton senilai Rp 38 miliar ke Arab Saudi, serta penyaluran bantuan beras sebesar 10 ribu ton untuk Palestina.
Ekspor ke Arab Saudi dilakukan untuk memenuhi kebutuhan sekitar 215 ribu jamaah haji Indonesia. Ke depan, potensi pasar diperkirakan terus meningkat, mencakup jamaah umrah dan warga Indonesia (mukimin) yang jumlahnya mencapai sekitar 2 juta orang per tahun.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyatakan, capaian ini menjadi bukti nyata kekuatan produksi dan stok beras nasional.
“Ini ekspor perdana ke Saudi. Ini momentum baik karena produksi kita meningkat. Ini yang kita ekspor. Kita juga sudah menjajaki beberapa negara seperti Saudi, Papua Nugini, Malaysia, dan Filipina,” ujar Mentan Amran dalam keterangan, Sabtu (18/4/2026).
Selain ekspor, pemerintah menunjukkan komitmen kemanusiaan melalui penyaluran bantuan beras ke Palestina. Bantuan 10 ribu ton tersebut merupakan arahan langsung Presiden Republik Indonesia sebagai bentuk solidaritas terhadap masyarakat Palestina.
“Atas arahan Bapak Presiden Republik Indonesia, beliau memberikan perintah pada kami untuk memberi bantuan pada saudara kita di Palestina 10 ribu ton beras,” ujar Mentan Amran.
Dari sisi produksi, kinerja nasional menunjukkan tren yang sangat positif. Produksi beras nasional pada 2025 tercatat meningkat 4,07 juta ton atau 13,29 persen, didukung peningkatan luas panen dan berbagai kebijakan penguatan sektor pertanian.
Cadangan Beras Pemerintah (CBP) hingga April 2026 mencapai sekitar 4,7 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah, dan terus bergerak menuju 5 juta ton. Capaian ini menjadi fondasi utama dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga di dalam negeri.
“Dengan swasembada pangan, kita aman. Kita tidak boleh lagi bergantung pada sumber dari luar negeri. Dalam krisis global, tidak ada negara yang akan rela melepas pangannya ke luar negeri. Ini adalah hukum sejarah, “ ujarnya.
Ketahanan pangan nasional tidak hanya ditopang oleh stok pemerintah, tetapi juga oleh ketersediaan beras di masyarakat serta potensi produksi yang masih akan berlangsung hingga akhir tahun.
Di pasar domestik dan sektor HoReCa (Hotel, Restoran, dan Katering), ketersediaan beras tercatat mencapai 12 juta ton. Selain itu, potensi standing crop diproyeksikan terus memberikan kontribusi produksi hingga akhir tahun. Kombinasi tersebut memastikan pasokan nasional tetap aman dan mencukupi kebutuhan hingga 11 bulan ke depan.
Kondisi ini turut tecermin dari meningkatnya kesejahteraan petani, dengan Nilai Tukar Petani (NTP) yang mencapai 125,35—tertinggi dalam lebih dari tiga dekade. Sektor pertanian juga mencatat pertumbuhan sebesar 5,74 persen, tertinggi dalam 25 tahun terakhir.
Dengan produksi yang melampaui kebutuhan domestik bulanan yang berada pada kisaran 2,5–2,6 juta ton, Indonesia memiliki ruang untuk memperluas ekspor sekaligus berkontribusi dalam misi kemanusiaan internasional secara berkelanjutan.
Capaian ini menegaskan transformasi sektor pertanian Indonesia yang semakin kuat dan berdaya saing, tidak hanya dalam memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga dalam memperkuat posisi Indonesia di pasar global dan panggung kemanusiaan dunia.

3 hours ago
8

















































