Moody’s Turunkan Outlook Lima Bank, OJK Sebut tak Ada Dampak Signifikan

3 hours ago 7

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meyakini tidak ada dampak signifikan terhadap stabilitas industri perbankan nasional setelah Moody’s merevisi outlook sovereign credit rating Indonesia menjadi negatif dan menurunkan outlook lima bank.

“Saya optimistis tidak akan ada dampak yang signifikan. Tentu saja, sebagaimana yang disampaikan Moody’s, ini adalah konsekuensi penurunan outlook secara menyeluruh,” kata Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan (KEPB) OJK Dian Ediana Rae saat dijumpai media di Jakarta, Selasa (10/2/2026) lalu.

Dian mengatakan, pihaknya juga tidak khawatir atas perubahan outlook Moody’s ini mengingat tidak ada isu yang bersifat struktural. Menurutnya, bank-bank di Indonesia, termasuk lima bank dalam outlook Moody’s, secara fundamental tetap sehat.

“Bagi saya sebagai KEPB, sekarang pengawasan individual bank itu lebih penting. Seratus lima bank umum itu memang banyak. Tapi buat saya, satu bank bermasalah saja itu sudah menjadi ‘pikiran’,” ujar dia.

Outlook dari Moody’s ini, tegas Dian, juga menjadi catatan dan tanggung jawab bersama bagi seluruh pihak, terutama pemangku kepentingan dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).

Dalam hal ini, dibutuhkan komunikasi yang lebih baik kepada Moody’s dan lembaga pemeringkat (rating agency) lainnya mengenai arah kebijakan ekonomi Indonesia.

Dian pun menyatakan komitmennya untuk mendiskusikan lebih lanjut mengenai permasalahan outlook lembaga pemeringkat internasional.

“Kalau pengalaman saya sendiri sebetulnya cukup dengan data informasi dan tentunya arah kebijakan (saat berkomunikasi dengan lembaga pemeringkat internasional). Jadi semua apa pun yang terkait dengan rules and regulation, data informasi, arah kebijakan kita, dan lain sebagainya, itu tentu akan kita siapkan nanti,” kata Dian.

Sebagai informasi, lembaga pemeringkat Moody’s pada Kamis (5/2/2026) mengumumkan untuk mempertahankan sovereign credit rating Indonesia pada level Baa2 dan melakukan penyesuaian outlook dari stabil menjadi negatif.

Sejalan dengan langkah tersebut, Moody’s juga merevisi outlook lima bank di Indonesia menjadi negatif, antara lain Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Negara Indonesia (BNI), Bank Central Asia (BCA), dan Bank Tabungan Negara (BTN).

Meski demikian, Moody’s tetap mempertahankan seluruh peringkat utama kelima bank tersebut, termasuk issuer ratings, deposit ratings, senior unsecured ratings, serta sejumlah indikator risiko dan profil kredit lainnya.

Adapun kinerja intermediasi perbankan pada 2025 tercatat tumbuh positif sebesar 9,63 persen (year on year/yoy) menjadi Rp 8.586 triliun. Di sisi lain, dana pihak ketiga (DPK) tumbuh sebesar 13,83 persen yoy menjadi Rp 10.059 triliun.

Likuiditas industri perbankan tetap memadai, dengan rasio alat likuid/non-core deposit (AL/NCD) dan alat likuid/dana pihak ketiga (AL/DPK) masing-masing sebesar 126,15 persen dan 28,57 persen, masih di atas ambang batas (threshold). Liquidity coverage ratio (LCR) berada di level 200,97 persen.

Kualitas kredit tetap terjaga dengan rasio NPL gross sebesar 2,05 persen dan NPL net sebesar 0,79 persen. Loan at Risk (LaR) juga menunjukkan tren penurunan menjadi 8,77 persen.

Secara umum, tingkat profitabilitas bank (ROA) sebesar 2,53 persen. Permodalan (CAR) sebesar 25,89 persen menjadi bantalan mitigasi risiko yang kuat di tengah kondisi ketidakpastian global.

sumber : Antara

Read Entire Article
Politics | | | |