Terminal LPG Tanjung Sekong Pertamina Akan Jadi Green Terminal

3 hours ago 6

REPUBLIKA.CO.ID,CILEGON – Terminal LPG Tanjung Sekong, Banten, bersiap bertransformasi menjadi green terminal sebagai bagian dari strategi transisi energi dan penguatan pilar lingkungan dalam agenda keberlanjutan PT Pertamina (Persero). Terminal strategis ini memegang peran vital dalam menjaga ketahanan energi nasional, dengan kontribusi sekitar 40 persen pasokan LPG nasional dan lebih dari 50 persen suplai LPG untuk Pulau Jawa.

Sebagai simpul utama distribusi LPG, Terminal Tanjung Sekong menopang kebutuhan energi rumah tangga, UMKM, hingga sektor komersial. Perannya menjadi semakin krusial menjelang Ramadan dan Idulfitri, ketika pola konsumsi LPG meningkat signifikan akibat perubahan jam aktivitas memasak masyarakat.

Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis PT Pertamina (Persero), Agung Wicaksono, mengatakan transformasi Terminal Tanjung Sekong menjadi green terminal merupakan langkah konkret Pertamina dalam membangun bisnis energi yang berkelanjutan berbasis ESG (environmental, social, governance).

“Terminal Tanjung Sekong ini bukan tempat biasa. Sekitar 40 persen suplai LPG nasional berasal dari sini. Karena itu, inisiatif menjadikannya sebagai green terminal bukan hanya simbolis, tapi berdampak langsung terhadap penurunan emisi dan efisiensi operasional di sektor yang sangat strategis,” ujar Agung dalam keterangan resmi, Rabu (11/2/2026).

Transformasi menuju green terminal dilakukan melalui implementasi Green Terminal Label Certification (GTLC), sebuah standar internal yang mendorong efisiensi energi, pengurangan emisi karbon, pengelolaan limbah, serta optimalisasi pemanfaatan energi terbarukan di seluruh rantai operasi terminal energi.

Salah satu tonggak penting (green milestone) dalam proyek ini adalah pemanfaatan green hydrogen yang diproduksi oleh PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) dari Wilayah Kerja Ulubelu, Lampung. Hidrogen hijau tersebut digunakan sebagai sumber energi rendah emisi untuk mendukung operasional terminal.

Pemanfaatan green hydrogen ini menjadi bagian dari integrasi ekosistem energi bersih di lingkungan Grup Pertamina, mulai dari produksi energi terbarukan, distribusi, hingga konsumsi di fasilitas operasional. Selain itu, sistem kelistrikan terminal juga akan diperkuat dengan pemanfaatan energi bersih, termasuk potensi pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di area operasional.

Agung menambahkan, pendekatan keberlanjutan yang ditempuh Pertamina saat ini tidak lagi bersifat administratif, melainkan telah masuk ke ranah business sustainability.

“Kita tidak bicara sustainability sebagai beban biaya, tapi sebagai peluang bisnis. Prinsipnya bukan siapa yang paling sedikit rugi, melainkan siapa yang bisa mendapatkan manfaat terbesar dari transformasi hijau,” tegas Agung.

Ke depan, konsep green terminal di Tanjung Sekong akan direplikasi di terminal-terminal energi Pertamina lainnya, sebagai bagian dari agenda transformasi menyeluruh untuk mendukung target net zero emission (NZE) 2060 sekaligus memperkuat daya saing bisnis energi nasional.

Direktur Utama PT Pertamina Energy Terminal (PET), Bayu Prostiyono, menegaskan bahwa transformasi Tanjung Sekong menjadi green terminal sejalan dengan roadmap dekarbonisasi operasional subholding downstream Pertamina.

“Melalui penerapan GTLC, kami menargetkan peningkatan efisiensi energi, pengurangan emisi, serta optimalisasi penggunaan energi terbarukan. Tanjung Sekong akan menjadi role model green terminal untuk seluruh jaringan terminal energi Pertamina,” ujar Bayu.

Selain aspek lingkungan, transformasi ini juga diarahkan untuk memperkuat ketahanan pasokan energi nasional. Dengan kapasitas penyimpanan LPG berskala besar dan sistem logistik terintegrasi, Terminal Tanjung Sekong menjadi tulang punggung distribusi LPG nasional, khususnya untuk wilayah Jawa, Sumatra, dan sebagian Kalimantan.

Integrasi green hydrogen, optimalisasi manajemen energi, serta peningkatan efisiensi operasional diharapkan mampu menurunkan jejak karbon (carbon footprint) terminal secara signifikan, sekaligus menjaga keandalan pasokan LPG di tengah meningkatnya permintaan.

Read Entire Article
Politics | | | |