REPUBLIKA.CO.ID, PEKANBARU -- Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah, berbagai wilayah di Indonesia mulai bersolek dan berbenah. Persiapan tidak hanya menyentuh aspek spiritual dan budaya di akar rumput, tetapi juga merambah ke kebijakan administratif pendidikan hingga penguatan ketahanan pangan nasional.
Di Provinsi Riau, Pemerintah melalui Dinas Pendidikan telah resmi menetapkan jadwal pembelajaran khusus bagi siswa SMA, SMK, dan SLB. Kepala Disdik Riau, Erisman Yahya, menjelaskan bahwa durasi jam belajar akan dipangkas menjadi maksimal enam jam per hari dengan durasi 30 menit per jam pelajaran. Kebijakan ini bertujuan menjaga konsentrasi siswa yang sedang menjalankan ibadah puasa.
"Libur awal Ramadhan ditetapkan pada 18 hingga 20 Februari 2026, sementara libur panjang Idul Fitri akan berlangsung dari 16 hingga 27 Maret 2026. Kami ingin Ramadhan menjadi momentum penguatan karakter melalui kegiatan pesantren kilat dan tadarus, tanpa mengurangi esensi akademik," ujar Erisman di Pekanbaru, Senin (9/2).
Gema Tradisi dan Doa Leluhur di Yogyakarta
Nuansa penyambutan yang lebih kental dengan kearifan lokal terasa di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Masyarakat Kalurahan Sendangtirto menggelar tradisi Sadranan Agung Wotgaleh, Ahad (8/2). Ritual tahunan ini diisi dengan kirab budaya dan ziarah ke makam Pangeran Purbaya, putra Panembahan Senopati.
Acara yang dihadiri Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, ini ditutup dengan aksi "rayahan" atau berebut gunungan hasil bumi. "Kegiatan ini adalah bentuk syukur sekaligus ajang silaturahmi agar masyarakat terus guyub rukun menyambut bulan suci," tutur Danang. Tradisi ini menegaskan bahwa spiritualitas Ramadhan di Indonesia selalu berdampingan erat dengan pelestarian budaya peninggalan Mataram Islam.
Menjaga Pasokan Pangan dan Kesehatan Ternak
Di sisi lain, Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pertanian (Kementan) fokus memastikan kenyamanan masyarakat dari sisi konsumsi. Menjelang melonjaknya lalu lintas ternak, Kementan memperketat pengendalian Penyakit Hewan Menular Strategis (PHMS) guna menjamin pasokan daging aman dan stabil.
Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Agung Suganda, menyatakan bahwa pemerintah telah menyiapkan 5,6 juta dosis vaksin, termasuk untuk Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Langkah ini diambil untuk mencegah kerugian ekonomi peternak sekaligus menjaga stabilitas harga pangan.
"Pencegahan harus menjadi fokus utama. Kita pastikan harga sapi siap potong tetap terjaga di kisaran Rp55.000 per kilogram berat hidup di tingkat peternak. Laboratorium veteriner juga sudah disiagakan untuk deteksi dini agar tidak terjadi keterlambatan penanganan kasus menjelang hari raya," tegas Agung.
Sinergi antara penyesuaian sistem pendidikan, pelestarian tradisi budaya, hingga penguatan keamanan pangan ini menunjukkan kesiapan kolektif bangsa dalam menyongsong Ramadhan 1447 H. Harapannya, masyarakat dapat menjalankan ibadah dengan tenang, didukung oleh lingkungan yang rukun dan pasokan kebutuhan pokok yang terjamin.
sumber : Antara

2 hours ago
6















































