IPK Biasa Tak Jadi Penghalang, Ini Tips Bangun Personal Branding Mahasiswa Entrepreneur

2 hours ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Di tengah persaingan dunia kerja dan bisnis yang semakin ketat, nilai akademik bukan lagi satu-satunya penentu masa depan mahasiswa. Banyak mahasiswa dengan IPK biasa saja justru memiliki peluang besar karena mampu membangun personal branding sejak kuliah.

Personal branding di lingkungan kampus bukan soal pencitraan berlebihan, melainkan tentang bagaimana mahasiswa menunjukkan nilai diri, kompetensi, dan konsistensi aktivitasnya. Tak heran jika topik Tips Bangun Personal Branding Mahasiswa Entrepreneur kian relevan di kalangan Generasi Z.

Masih banyak mahasiswa yang mengira personal branding identik dengan pamer di media sosial. Padahal, esensinya sederhana: apa yang diingat orang lain ketika nama kita disebut. Apakah sebagai mahasiswa yang aktif berbagi insight bisnis, kreatif, atau berkontribusi nyata bagi UMKM.

Berikut beberapa tips membangun personal branding yang dapat diterapkan mahasiswa entrepreneur sejak dini.

1. Tentukan Satu Identitas Utama

Mahasiswa kerap ingin terlihat mampu melakukan banyak hal sekaligus. Padahal, personal branding membutuhkan fokus. Pilih satu identitas utama yang ingin ditonjolkan, seperti mahasiswa bisnis digital, mahasiswa kreatif, mahasiswa data yang peduli UMKM, atau entrepreneur pemula. Identitas ini akan menjadi benang merah seluruh aktivitas dan konten yang dibangun.

2. Manfaatkan Media Sosial sebagai Portofolio

Bagi Generasi Z, media sosial telah berfungsi sebagai CV versi digital. Platform seperti Instagram dan TikTok dapat dimanfaatkan untuk storytelling, LinkedIn untuk membangun profesionalisme, serta blog atau website pribadi untuk berbagi insight yang lebih mendalam. Konsistensi dan relevansi jauh lebih penting daripada sekadar viral.

3. Bangun Kredibilitas dari Aktivitas Kampus

Kampus merupakan ruang paling aman untuk belajar membangun personal branding. Kegiatan kewirausahaan, event kampus, program magang, pendampingan UMKM, hingga organisasi mahasiswa dapat menjadi pengalaman sekaligus konten bernilai yang memperkuat citra diri sebagai mahasiswa entrepreneur.

4. Ceritakan Proses, Bukan Hanya Hasil

Generasi Z cenderung lebih percaya pada proses dibanding hasil instan.Membagikan cerita tentang kegagalan, kebingungan, proses belajar, dan keberanian mencoba kembali justru membuat personal branding terasa lebih autentik dan mudah diingat.

Sebagai Kampus Digital Bisnis, Universitas Nusa Mandiri (UNM) menyadari pentingnya membekali mahasiswa dengan kemampuan membangun identitas digital sejak dini. UNM tidak hanya menekankan penguasaan teori, tetapi juga mendorong mahasiswa untuk aktif berkarya, terlibat dalam praktik bisnis nyata, serta menciptakan peluang secara mandiri.

Komitmen tersebut diperkuat melalui Nusa Mandiri Entrepreneur Center (NEC) sebagai wadah pembelajaran, praktik, dan kolaborasi bagi mahasiswa entrepreneur.

Kepala NEC, Maruloh, menegaskan bahwa personal branding merupakan bekal penting mahasiswa di era digital.

Personal branding bukan soal terlihat hebat, melainkan tentang konsistensi menunjukkan proses dan nilai diri. Kampus hadir untuk membantu mahasiswa menemukan ciri khasnya agar siap bersaing dan mampu menciptakan peluang sendiri,” ujar Maruloh dalam keterangan rilis yang diterima, Senin (9/2/2026).

Ia menambahkan, membangun personal branding sejak kuliah akan memberikan dampak jangka panjang, baik untuk karier profesional maupun kewirausahaan. Dengan identitas yang kuat dan rekam jejak digital yang positif, mahasiswa tidak hanya dikenal sebagai pencari kerja, tetapi juga sebagai pencipta peluang.

“Dengan penerapan Tips Bangun Personal Branding Mahasiswa Entrepreneur, UNM optimistis mahasiswa dapat memaksimalkan potensi diri dan menjadikan kampus sebagai titik awal kesuksesan di era ekonomi digital,” kata dia.

Read Entire Article
Politics | | | |