REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ramadhan memiliki keistimewaan di antara bulan-bulan yang lain. Nabi Muhammad SAW menganjurkan kaum Muslimin untuk memanfaatkan pelbagai keutamaan yang ada di dalamnya.
“Telah datang kepada kamu bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah mewajibkan puasa bagi kamu pada bulan itu. Pada bulan itu (Ramadhan), pintu-pintu langit dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Di dalamnya, ada suatu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Siapa yang tidak mendapatkan kebaikannya, maka sungguh ia tidak mendapatkan kebaikan” (HR an-Nasa’i).
Ramadhan juga menyaksikan banyak momentum heroisme kaum Muslimin. Sejarah mencatat, pelbagai perjuangan fisik dilakukan umat Islam bertepatan dengan bulan puasa, sejak zaman Rasulullah SAW. Di antaranya adalah Perang Badar.
“Dan sungguh, Allah telah menolong kamu dalam Perang Badar, padahal kamu dalam keadaan lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, agar kamu mensyukuri-Nya” (QS Ali Imran: 123).
Konteks pertempuran
Muhammad Husain Haekal dalam buku Sejarah Hidup Muhammad menuturkan konteks Perang Badar, sebuah pertempuran yang di dalamnya pertolongan Allah datang kepada Muslimin.
Sekitar satu tahun sesudah Nabi Muhammad SAW dan para pengikutnya hijrah ke Madinah, pelbagai bentrokan kecil terjadi. Penyebabnya, orang-orang Quraisy di Makkah menjarah barang-barang peninggalan Muslimin yang tanpa penjagaan karena para pemiliknya ikut berhijrah. Bahkan, kaum musyrikin ini tanpa merasa bersalah menjadikan barang-barang itu dagangan untuk dijual ke luar.
Kafilah-kafilah Quraisy mesti melewati daerah sekitar Madinah untuk mencapai Syam. Begitu mengetahui harta bendanya dijamah para musuh Allah itu, kaum Muslimin yang berhijrah dari Makkah (Muhajirin) hendak merebutnya kembali. Inilah yang melatari konflik-konflik kecil sebelum Perang Badar pecah.
Rasulullah SAW mengutus Abdullah bin Jahsy dan kawan-kawan untuk mengintai pergerakan rombongan Quraisy yang hendak melewati area perkebunan kurma di Nakhlah, sekitaran Madinah. Salah satu anggota tim ini adalah Waqid bin Abdullah at-Tamimi, seorang pemanah ulung.
Di Nakhlah, kelompok Abdullah bin Jahsy mengadang kafilah Quraisy yang mengangkut barang-barang milik Muhajirin. Dalam kejadian ini, at-Tamimi berhasil menewaskan seorang tokoh Quraisy, Amr bin al-Hadzrami. Orang-orang Quraisy yang tersisa dari rombongan ini dapat melarikan diri ke Makkah.
Para petinggi Quraisy bertekad membalas kekalahan di Nakhlah itu. Caranya dengan memprovokasi suku-suku Arab di luar Makkah. Muhammad SAW dan Muslimin difitnah telah melakukan pembunuhan pada saat bulan suci berlangsung. Dalam tradisi bangsa Arab, pertempuran memang terlarang dilakukan pada bulan-bulan tertentu, yakni Zulkaidah, Zulhijah, Muharam, dan Rajab.
Sementara itu, musim gugur tiba. Pada tahun kedua sesudah hijrahnya Muslimin, Abu Sufyan bin Harb kembali memberangkatkan kafilah dagangnya dari Makkah ke Syam. Kaum Muhajirin di Madinah menerima kabar ini. Mereka lantas bergerak untuk mengadang rombongan Abu Sufyan itu, yang sesungguhnya membawa barang-barang milik Muslimin dari Makkah.

1 hour ago
3















































