Presiden Prabowo Subianto bertemu pimpinan ormas Islam dan ponpes di Istana Negara, Jakarta Pusat, Selasa (3/2/2026).

Oleh : Prof Bagung Suyanto; Guru Besar FISIP Universitas Airlangga
REPUBLIKA.CO.ID, Setelah sebelumnya bertemu dengan 1.200 guru besar dan kalangan pejabat kampus, kini Presiden Prabowo giliran bertemu dengan sejumlah tokoh vokal. Pertemuan ini menarik bukan sekadar karena lamanya pertemuan yang memakan waktu hingga 4,5 jam, tetapi juga karena sejumlah tokoh yang diundang selama ini dikenal sebagai kelompok yang kritis, bahkan ada yang menyebutnya tokoh oposan.
Dari beberapa nama yang diundang, Presiden Prabowo dilaporkan berdiskusi mengenai kepemiluan dengan Siti Zuhro dan mengenai penegakan hukum dengan Susno Duadji, yang sebelumnya adalah Kepala Badan Reserse Kriminal Polri.
Selain itu, dalam pertemuan itu hadir, antara lain, Abraham Samad, Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) periode tahun 2011-2015 dan mantan Sekretaris Kementerian BUMN Muhammad Said Didu. Selain didampingi Sjafrie Sjamsoeddin, Presiden Prabowo juga ditemani Prasetyo Hadi dan Menteri Luar Negeri Sugiono.
Pertemuan tersebut, membahas banyak hal. Namun salah satu yang menarik dalam pertemuan itu juga dibahas bagaimana negara harus dikelola secara baik oleh semua pihak. Dalam pertemuan itu terungkap bahwa selama ini banyak pihak yang kerap membuat kondisi merugikan negara dari segi pemanfaatan sumber daya alam hingga perputaran keuangan. Pihak-pihak tersebut, antara lain, swasta yang tak mau mengikuti regulasi usaha demi kepentingan pribadi hingga dugaan anggaran negara yang bocor.
Menurut Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Presiden tidak menutup mata ada kemungkinan oknum pemerintah yang mungkin jadi penyebab terjadinya kerugian negara. Oleh karena itu, Presiden dalam pertemuannya dengan para tokoh tersebut ingin mengajak semua pihak untuk bersama-sama membenahi negara.
Apa yang disampaikan Presiden Prabowo sebetulnya sebagian sama dengan apa yang disampaikan dalam pertemuan dengan 1.200 guru besar dan pejabat kampus sebulan sebelumnya. Yang menarik disimak adalah apa sebetulnya makna pertemuan ini bagi perkembangan relasi negara dan tokoh kritis serta masyarakat?
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

2 hours ago
7















































