
Oleh : Ramadhan Pohan, Pengajar Komunikasi Politik, mantan politisi DPR-RI
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebagai penggemar sepakbola, saya ingin mencoba memberikan analogi yang sedikit berbau Si Kulit Bundar dalam bahasan kali ini.
Manchester United (MU), yang dulu hampir setiap musim menjadi pemburu gelar dan pemilik koleksi trofi Liga Inggris terbanyak, belakangan terseok-seok hingga bersaing memperebutkan posisi empat besar pun terasa amat berat. Di tengah performa yang membuat para pendukungnya gelisah, muncul satu sosok yang menjadi oase di tengah padang pasir: sang kapten Bruno Miguel Borges Fernandes.
Meski awal kedatangannya tidak terlalu diharapkan dan banyak yang pesimis, gelandang nomor punggung 8 asal Portugal itu justru menjelma menjadi idola baru karena konsistensinya tampil berbeda ketika rekan-rekannya jauh dari ekspektasi. Setiap tendangan dan umpannya memberi harapan, seakan ia menggendong United di punggungnya, menjadikannya pemain terbaik klub pada masa sulit ini.
Ilustrasi tersebut pas untuk menggambarkan mengenai Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan Republik Indonesia (RI) yang naik panggung menggantikan Sri Mulyani. Ketika di hari pertama saat acara serah terima jabatan di Kementerian Keuangan, ia langsung mencuri perhatian. Purbaya kemudian dijuluki dengan sebutan Menteri Koboi dengan gaya bicaranya yang khas dan ceplas-ceplos. Beberapa ada yang pesimistis, ada juga yang tetap menaruh harapan.
Tampilan Purbaya berbeda dari pejabat setingkat menteri pada umumnya. Ia terkesan tidak jaim atau jaga image. Ia tidak segan-segan mempertahankan kebiasaan makan di pedagang kaki lima. Tidak segan-segan mengkritik sesama menteri jika memang melakukan hal yang tak pas, kesalahan. Purbaya tidak takut untuk menyatakan hal-hal jelek jika memang itu tidak baik. Simpel dia.
Kemudian, terobosan-terobosan baru dilakukan oleh Purbaya untuk memperbaiki kondisi ekonomi Indonesia. Purbaya mengalihkan sekitar Rp 200 triliun dari kas “tabungan suram” pemerintah (anggaran surplus masa lalu) ke bank-bank pelat merah (Himbara), dengan harapan dana ini bisa beredar: untuk kredit, pembiayaan, dan memperlancar sektor riil. Ia menghadirkan paradigma baru dalam pengelolaan anggaran di Indonesia.
Menteri keuangan sebelumnya cenderung hati-hati dalam mengeluarkan anggaran, melakukan penghematan dan memaksimalkan pendapatan negara dari sektor pajak. Purbaya berbeda. Ia memindahkan fokus percepatan ekonomi lewat pertumbuhan sektor riil. Setidaknya, logika kebijakan yang diambil bisa diterima oleh masyarakat yang awam. Jika sektor riil tidak tumbuh, ekonomi tidak bergerak, bagaimana pajak bisa dibayarkan oleh wajib pajak?
Tepat atau tidaknya, biar para ahli ekonomi yang menilai. Namun yang menarik dari Purbaya adalah gaya komunikasinya dan pemerekan politik yang coba ditampilkan saat muncul di publik. Saat pejabat yang lain cenderung “jaga image” dan kerap 'bersolek' ketika hadir di depan publik, Purbaya tampil apa adanya. Purbaya seolah sudah tahu, masyarakat hari ini sudah cerdas dan tidak mudah tertipu dengan dramaturgi yang dimainkan pejabat di media konvensional maupun media sosial.
Lihat saja, pertunjukkan pejabat yang turun ke lokasi bencana banjir di Sumatera. Ada menteri yang membagikan potret dirinya memanggul beras di punggungnya, kemudian panen hujatan di media sosial. Ada Gubernur yang membagikan bantuan lewat udara, dengan cara melempar sehingga beras bantuan berserakan, ini juga panen perundungan di media sosial. Saya haqqul yaqin, semua itu dilatarbelakangi oleh keinginan untuk menuai simpati di media sosial. Sayangnya, it doesn’t work.
Setidaknya, Purbaya tidak terjebak dalam dramaturgi seperti itu. Ia memilih fokus terhadap pekerjaannya, mencoba membenahi kebijakan ekonomi dan fiskal Indonesia. Ia tidak memikirkan masa depannya di dunia politik dan fokus pada tugasnya saat ini.
Meminjam istilah Erving Goffman, titel face saving cocok disematkan untuk Purbaya. Di tengah situasi di mana sejumlah menteri dan pejabat justru kerap membuat blunder komunikasi, kontroversi kebijakan, atau pernyataan yang memicu ketidakpastian publik, Purbaya tampil sebagai figur yang melakukan remedial facework melalui penjelasan yang jernih, langkah kebijakan yang terukur, dan gaya komunikasi yang menenangkan pasar maupun publik.
Kinerja Purbaya dapat dipahami sebagai mekanisme protective facework yang menjaga stabilitas persepsi publik terhadap kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, mengisi celah yang ditinggalkan oleh para menteri lain yang justru melemahkan kredibilitas pemerintah melalui kesalahan langkah dan komunikasi yang tidak efektif. Terakhir Anda bisa lihat kesalahan fatal komunikasi menteri dan pejabat saat Bencana di Sumatera, utamanya Aceh.
Purbaya adalah tipe aktor politik yang justru menarik karena tidak pandai bermain dramaturgi. Atau lebih tepatnya Purbaya enggan memisahkan panggung depan (front stage) dan panggung belakang (backstage). Dalam konsep Goffman, para pejabat publik umumnya merawat dua wajah: satu untuk ditampilkan ke public penuh simbol, gesture, dan pencitraan dan satu lagi yang lebih jujur, spontan, atau apa adanya. Purbaya mematahkan pola tersebut. Ia mungkin saja “bermain drama” seperti politisi lain, namun karena peran panggung depannya hampir identik dengan panggung belakangnya, hasil akhirnya bukanlah performa yang artifisial, melainkan pertunjukan yang otentik.
Satu lagi yang patut diacungi jempol dari Purbaya adalah kemampuan dia untuk mengelaborasi bahasa-bahasa ekonomi dan fiskal yang cukup rumit, menjadi dekat dengan publik. Masyarakat awam sekalipun jadi mengetahui, bagaimana bentuk dan model kebijakan fiskal serta bagaimana cara Purbaya mengelola APBN dan meningkatkan trust pasar modal terhadap kondisi perekonomian Indonesia.
Maka dari itu, kinerja Purbaya saat ini bisa disandingkan dengan Bruno Fernandes di Manchester United. Di saat rekan-rekannya yang lain tidak perform dengan optimal dan banyak melakukan blunder, keduanya tidak terpengaruh. Mereka fokus menjalankan tugasnya dan mencoba mengangkat performa tim. Purbaya menutupi kesalahan komunikasi ataupun kebijakan yang dilakukan menteri-menteri yang lain, sama seperti Bruno Fernandes di MU. Mereka menumbuhkan harapan di tengah pesimisme atas performa rekan-rekannya.
Jika sedang pesimistis terhadap performa Manchester United, kita jangan kehilangan harapan karena masih ada Bruno Fernandes. Jika pesimistis dengan nasib Indonesia karena performa para pejabatnya, utamanya menteri-menteri, maka jangan kehilangan harapan karena masih ada Purbaya Yudhi Sadewa yang setidaknya sampai hari ini, masih fokus untuk membenahi perekonomian bangsa. Purbaya aman dan eksis karena Presiden Prabowo Subianto percaya padanya. Purbaya adalah aset, di tengah para menteri dan pejabat yang justru liability. Ouch...
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

3 hours ago
6















































