Oleh: Nabigh Shorim Faozan*)
Jujur saja, menjadi Generasi (Gen) Z itu melelahkan. Tekanan akademik tinggi, persaingan kerja makin ketat, sementara arus informasi datang tanpa henti.
Dalam kondisi demikian, banyak anak muda sampai pada satu kesimpulan sederhana. Kalau tubuh dan mental tidak dijaga, kondisi tumbang hanya soal waktu. Karena itu, hidup sehat bagi Gen Z bukan tren gaya-gayaan, melainkan strategi bertahan hidup.
Citra anak muda yang dahulu identik dengan pesta, mabuk-mabukan, dan bergadang, kini perlahan bergeser. Semakin banyak Gen Z yang sadar batas: tidur cukup, lebih selektif dalam pergaulan, dan berpikir ulang sebelum mengonsumsi alkohol hanya demi terlihat “gaul.”
Gaya hidup sehat justru menjadi tanda kedewasaan: paham mengelola diri sendiri di tengah tekanan yang makin kompleks.
Perubahan ini tampak jelas di ruang-ruang sosial. Coffee shop kini ramai sejak pagi hingga siang, diisi anak-anak muda yang mengerjakan tugas, bekerja, atau berdiskusi.
Pelan-pelan, ruang ini menyaingi klub malam yang lekat dengan minuman beralkohol (minol) dan kurang tidur. Bukan berarti Gen Z anti-bersenang-senang. Mereka memilih kesenangan yang tidak harus dibayar mahal oleh tubuh keesokan harinya.
Dari sudut pandang kesehatan, pilihan tersebut masuk akal. Minol merupakan salah satu faktor risiko utama gangguan hati. Konsumsi khamar berlebihan dapat memicu perlemakan hati, hepatitis alkoholik, hingga sirosis.
Yang sering luput disadari, kerusakan hati kerap terjadi tanpa gejala awal dan baru terdeteksi saat kondisinya sudah berat. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2023 mencatat, minol berkontribusi terhadap lebih dari tiga juta kematian setiap tahun secara global, dengan beban besar justru pada kelompok usia produktif.
Dampaknya tidak berhenti pada fisik. Secara klinis, minol adalah depresan sistem saraf pusat. Mengonsumsinya secara rutin dapat memperburuk kecemasan dan depresi, mengganggu regulasi emosi, serta meningkatkan risiko ketergantungan (Rehm et al., 2023).
Banyak anak muda pada awalnya menjadikan minol sebagai pelarian dari stres. Namun, dalam jangka panjang mengonsumsi khamar justru membuat kondisi mental semakin rumit.
Gen Z yang relatif lebih terbuka membicarakan isu kesehatan mental mulai sadar bahwa pelarian semacam itu tidak benar-benar menyelesaikan masalah. Data global menguatkan tren ini.
Proporsi usia 18–34 tahun yang mengonsumsi minol menurun dari sekitar 72 persen pada 2010 menjadi sekitar 50 persen pada 2024.
Secara global, konsumsi alkohol juga turun sekitar 10 persen dibandingkan puncaknya pada 2021 (OECD, 2024). Penurunan ini menunjukkan perubahan perilaku yang dipicu oleh meningkatnya literasi kesehatan di kalangan generasi muda.
Sebaliknya, kopi justru naik pamor. Di Indonesia, konsumsi kopi domestik meningkat dari sekitar 190 ribu ton pada 2010 menjadi lebih dari 370 ribu ton pada 2023 (International Coffee Organization; USDA, 2023).
Coffee shop menjamur. Ngopi kini menjadi bagian dari gaya hidup urban. Bagi Gen Z, kopi bukan sekadar minuman, tetapi simbol fokus, kesiapan, dan kendali diri.
Tentu, kopi juga perlu batas. Kafein berlebih dapat memicu jantung berdebar, kecemasan, dan gangguan tidur. Namun, dalam konsumsi wajar, kopi dikaitkan dengan peningkatan kewaspadaan, fungsi kognitif, serta penurunan risiko diabetes tipe 2 dan beberapa penyakit metabolik (Rehm et al., 2023). Dibanding dengan minol, kopi relatif lebih ramah bagi tubuh.
Isu tidur pun menjadi perhatian serius. Mengonsumsi minuman beralkohol sering dianggap membantu tidur, padahal secara fisiologis justru merusak kualitasnya.
Minol mengganggu fase tidur rapid eye movement (REM) yang penting untuk pemulihan mental dan konsolidasi memori. Akibatnya, seseorang bisa tidur lama, tetapi bangun tetap merasa lelah dan sulit fokus (World Health Organization, 2023). Bagi Gen Z yang hidupnya bergantung pada konsentrasi dan kreativitas, tidur berkualitas bukan bonus, melainkan kebutuhan dasar.
Pilihan hidup sehat ini juga bersinggungan dengan nilai moral dan agama. Dalam tradisi Islam, khamar dilarang karena dampaknya terhadap akal dan kehidupan sosial.
Adanya larangan tersebut dalam Alquran pun turun secara bertahap. Mulai dari mengajak kaum Muslimin untuk berpikir kritis tentang asal-usulnya (QS an-Nahl: 67), menimbang manfaat dan mudaratnya (QS al-Baqarah: 219), membatasi praktiknya (QS an-Nisa: 43), hingga melarang secara tegas (QS al-Maidah: 90–91).
Pendekatan ini menunjukkan bahwa larangan tersebut berorientasi pada perlindungan akal dan kesejahteraan manusia.
Pada akhirnya, ini bukan soal sok sehat atau sok suci. Gen Z cuma berhenti memaksa diri mengikuti budaya mabuk yang sering dibungkus sebagai “cara menikmati hidup”.
Tidak semua ajakan harus diikuti. Tidak semua kesenangan layak dibayar dengan rusaknya tubuh dan mental.
Di era Fear of Missing Out (FOMO), keputusan untuk bilang cukup justru jadi sikap paling radikal. Saat banyak orang berlomba lupa lewat minuman beralkohol, Gen Z memilih tetap sadar dan hadir sepenuhnya.
Ini bukan anti-senang-senang, tapi anti-kehilangan kendali. Karena di dunia yang makin melelahkan, mabuk bukan solusi. Berani menolak adalah bentuk kedewasaan baru.
*) Nabigh Shorim Faozan adalah mahasiswa Program Studi Kedokteran, Universitas Mataram.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

2 hours ago
4















































