REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Merebaknya kasus infeksi virus Nipah di India memicu kewaspadaan berbagai negara, tak terkecuali Indonesia. Pemerintah sendiri, saat ini telah memperkuat pengawasan dan pencegahan penularan virus Nipah, di antaranya dengan memperketat pemantauan pelaku perjalanan internasional serta pengawasan alat angkut dan barang dari luar negeri di pintu-pintu masuk seperti pelabuhan dan bandara.
Dosen Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UGM, drh Khrisdiana Putri menyampaikan, virus mematikan yang tergolong zoonosis ini berbahaya karena dapat menyebabkan gangguan kesehatan serius, mulai dari infeksi saluran pernapasan hingga radang otak yang dapat berujung kematian.
Selain itu, berpotensi menular dari hewan ke manusia, bahkan antarmanusia. Karenanya, upaya pencegahan termasuk dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) dinilai menjadi langkah penting. Kalau pada hewan, umumnya ditandai dengan gangguan pernapasan dan saraf.
"Kalau pada manusia, dampaknya memang lebih fatal karena biasanya kematian terjadi akibat ensefalitis atau radang otak," katanya, Senin (9/2/2026).
Khrisdiana menyampaikan, virus Nipah bersifat musiman dan sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, termasuk stres dan kelaparan pada kelelawar. Berkurangnya sumber pakan alami di habitat hutan, seperti nira, dapat meningkatkan risiko penularan karena virus menjadi lebih aktif.
Terkait ini, pemerintah telah mengambil langkah pencegahan melalui regulasi, salah satunya dengan melarang keberadaan peternakan babi di sekitar perkebunan nira. Namun, selain pengaturan peternakan, Khrisdiana juga menyoroti kebiasaan masyarakat yang mengonsumsi nira segar secara langsung tanpa proses pengolahan.
Menurutnya, nira sebaiknya dipasteurisasi atau dipanaskan terlebih dahulu sebelum dikonsumsi.
"Di sektor peternakan, kesadaran menjaga jarak kandang dari kebun nira serta penerapan desinfeksi kandang menjadi hal penting," ujarnya.
Lebih lanjut, Khrisdiana menyebut virus Nipah tergolong lemah dan tidak mampu bertahan lama di lingkungan luar inang. Oleh karena itu, penerapan perilaku hidup bersih dan sehat menjadi salah satu kunci pencegahan.
"Menjaga kebersihan diri seperti mencuci tangan, mengganti pakaian setelah beraktivitas di luar, dan menjaga keseimbangan dengan alam adalah hal yang tidak bisa diabaikan. Pada akhirnya, dampaknya akan kembali kepada manusia sendiri," ungkapnya.
Senada, Dosen Kesehatan Masyarakat Veteriner FKH UGM, drh Heru Susetya mengingatkan, meskipun virus Nipah berkembang pada hewan, risiko penularan ke manusia tetap harus diwaspadai. Ia menjelaskan secara epidemiologis, kelelawar merupakan reservoir utama virus Nipah.
Heru merunut sejarah kemunculan virus Nipah yang pertama kali terdeteksi di wilayah Nipah, Malaysia, dengan pola penularan klasik dari kelelawar ke babi lalu ke manusia. Namun, pada kasus di Bangladesh dan India, penularan dilaporkan terjadi langsung dari kelelawar ke manusia, salah satunya akibat konsumsi nira yang tidak ditangani dengan baik.
"Kekhawatiran kami dari sisi penyakit adalah kemungkinan terjadinya penularan antarmanusia, dan itu sudah terjadi, sudah ada buktinya," ujarnya.
Di Indonesia, Heru menilai pentingnya keberadaan sistem peringatan dini atau early warning system (EWS) untuk mendeteksi penyakit zoonosis sejak awal. Menurutnya, upaya pencegahan seharusnya tidak dilakukan dengan menyalahkan atau memusnahkan kelelawar, tetapi juga dengan menghindari kontak langsung serta meningkatkan kewaspadaan.
"Upaya ini diharapkan mampu mencegah penularan lebih lanjut, meskipun tetap bergantung pada pola penyebaran virus," katanya.

2 hours ago
6















































