REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) menyampaikan akan segera meluncurkan produk barunya, yakni simpanan emas. Produk tersebut dijadwalkan dirilis pada Februari 2026.
“Mudah-mudahan di akhir Februari ini kita sudah mulai bisa rilis untuk produk simpanan emas. Ini tinggal persiapan akhir, terkait dengan pencatatan, pelaporan, dan sebagainya, karena berkaitan dengan pihak ketiga juga,” kata Direktur Sales & Distribution BSI Anton Sukarna, dikutip Sabtu (7/2/2026).
BSI diketahui telah mendapatkan tiga izin untuk produk dasar dari empat produk dasar yang tercantum dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 17 Tahun 2024 tentang kegiatan usaha bullion bank. Ketiga izin tersebut yakni izin jual beli, izin penitipan, dan izin simpanan.
Lebih lanjut, Anton menuturkan, setelah produk simpanan emas resmi dirilis, BSI akan melanjutkan dengan merilis produk keempat, yakni pembiayaan emas. Saat ini, BSI masih mengupayakan perizinan untuk produk pembiayaan emas tersebut.
“Setelah itu (simpanan emas), kita akan melakukan kajian terkait perizinan pembiayaan emas. Kalau misalnya nanti hasil laporan kajian kita cukup visible, kemudian risikonya bisa manage dengan baik, market sudah bisa kita create, insya Allah kita akan segera ajukan izin untuk pembiayaan emas,” tutur Anton.
Di samping itu, BSI juga tengah mempersiapkan berbagai produk turunan dari bisnis bullion bank. Saat ini, BSI sedang mengajukan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk menghadirkan produk gadai e-mas dan cicil e-mas bagi nasabah ritel.
Anton melanjutkan, ke depan rencana pengembangan bisnis BSI lainnya, yakni produk tabungan emas wholesale. Menurutnya, produk tersebut cukup banyak diminati masyarakat.
“Karena ini ada permintaan dari market terkait dengan kebutuhan emas untuk nasabah-nasabah wholesale. Insya Allah banyak hal yang sedang kita kerjakan terkait bullion banking kita, dan mudah-mudahan pada 2026 ini banyak produk baru yang bisa kita release ke market,” jelasnya.
Berdasarkan catatan BSI, bisnis emas mengalami pertumbuhan signifikan sepanjang 2025. Untuk bisnis cicil emas dan gadai emas (non bullion bank), tercatat naik 78,60 persen dengan volume mencapai Rp 22,90 triliun. Jumlah tersebut terdiri atas Rp 12,89 triliun cicil emas dan Rp 10,02 triliun gadai emas.
Secara lebih rinci, bisnis cicil emas mengalami kenaikan hingga 101,23 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Sementara itu, gadai emas mengalami kenaikan 56,05 persen (yoy). Adapun untuk bullion bank, BSI mencatat pertumbuhan penjualan sebesar 2,2 ton emas pada 2025.
BSI juga mencatatkan pertumbuhan positif pada jumlah nasabah. Untuk cicil emas dan gadai emas, jumlah nasabah mencapai 640 ribu orang. Sementara itu, untuk murni bullion (titipan dan jual beli), jumlah nasabah tercatat menembus 530 ribu orang. Dengan demikian, total jumlah nasabah di bisnis emas BSI mencapai lebih dari 1 juta orang.

2 hours ago
3













































