Ketika Perilaku Buruk Wisatawan 'Mematikan' Festival Sakura

2 hours ago 2

Pengunjung taman di Jepang berswafoto dengan latar bunga sakura (ilustrasi). Pemerintah Kota Fujiyoshida, yang terletak di dekat Gunung Fuji, Jepang, membatalkan penyelenggaraan festival bunga sakura tahun ini. Hal ini disebabkan oleh lonjakan wisatawan yang dinilai sudah tidak dapat dikelola dan mengganggu kehidupan warga setempat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah Kota Fujiyoshida, yang terletak di dekat Gunung Fuji, Jepang, membatalkan penyelenggaraan festival bunga sakura tahun ini. Hal ini disebabkan oleh lonjakan wisatawan yang dinilai sudah tidak dapat dikelola dan mengganggu kehidupan warga setempat.

Otoritas kota menyebutkan, meningkatnya jumlah turis telah menyebabkan kemacetan lalu lintas kronis, penumpukan sampah, serta berbagai perilaku tidak pantas. Sejumlah warga bahkan mengeluhkan adanya turis yang menerobos properti pribadi, masuk ke rumah tanpa izin, hingga buang air besar di halaman warga.

Fujiyoshida merupakan destinasi populer setiap musim semi karena keindahan bunga sakura yang dapat dinikmati dengan latar belakang Gunung Fuji. Namun, Wali Kota Fujiyoshida, Shigeru Horiuchi, mengatakan kondisi tersebut kini mengancam ketenangan hidup warga.

"Untuk melindungi martabat dan lingkungan hidup warga kami, kami memutuskan untuk mengakhiri festival yang telah berlangsung selama 10 tahun ini," kata Horiuchi dalam pengumuman seperti dilansir laman BBC, Sabtu (7/2/2026).

Festival sakura tersebut mulai digelar pada April 2016 di Taman Arakurayama Sengen, yang terkenal dengan pagoda dan pemandangan panoramik kota. Kawasan ini juga memiliki sejumlah spot foto yang populer dan Instagrammable.

Pemerintah kota awalnya mengadakan festival tahunan tersebut untuk meningkatkan daya tarik kawasan dan menciptakan suasana yang lebih hidup. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, jumlah wisatawan meningkat secara signifikan.

Menurut pernyataan pemerintah setempat, hingga 10 ribu pengunjung per hari datang ke Fujiyoshida selama puncak musim sakura. Lonjakan ini disebut dipicu oleh melemahnya nilai yen serta popularitas besar yang didorong oleh media sosial.

Read Entire Article
Politics | | | |