Becak Kayuh dan Indahnya Berwisata di Jantung Kota Malang

1 hour ago 2

Oleh: Ilham Tirta, Jurnalis Republika

REPUBLIKA.CO.ID, Hujan yang mengguyur Kota Malang, Jawa Timur, selama beberapa pekan terakhir mendadak terjeda pada Rabu (4/2/2025). Malang raya begitu cerah, seperti menyambut hasrat tualang yang kami bawa jauh-jauh dari Jakarta, tanpa beban.

Ya, hari itu kami, rombongan wartawan yang mengikuti tur Traveloka Ramadhan Sale, baru sampai kota bunga tepat pukul 07.00 WIB. Siangnya, kami sudah diagendakan untuk mengunjungi berbagai tempat ikonik dan bersejarah di pusat Malang. Yang menggembirakan adalah moda transportasinya; becak Kayuh.

Bagi warga Malang dan sekitarnya, becak kayuh yang tradisional, lamban dan kepayahan mungkin sudah tidak relevan dengan laju jaman yang sudah serbacepat. Namun, itu sangat menggembirakan bagi kami yang sebentar ingin "melarikan diri" dari kepenatan Ibu Kota. Jakarta, oh betapa tergesanya kota itu!

Siang menjelang sore, kami sudah berada di Hotel Tugu yang berhadapan dengan Tugu Perjuangan Kemerdekaan Indonesia dan kolam taman lotus yang indah, tepat di jantung kota lama Malang. Di sinilah jadwal perjalanan kami itu dirancang oleh pihak hotel dan Traveloka.

Moda becak ternyata sudah menjadi bagian integral dari pelayanan Hotel Tugu. Sebagai penginapan tua peninggalan era kolonial, hotel bintang lima tersebut mengusung tema heritage, yaitu mengintegrasikan pelayanan hotel dengan berbagai tempat wisata yang ikonik dan berbau sejarah di sekitarnya.

"Kami sengaja mencari becak kayuh karena tradisionalnya, sesuai dengan nilai experience yang hotel kami tawarkan ke pengunjung," kata Room Sales Hotel Tugu Malang, Bagus Pamungkas, sesaat sebelum kami berangkat.

Pukul 14.00 WIB, 14 becak kayuh sudah berderet di samping depan lobi hotel. Di sampingnya masing-masing berdiri kakek-kakek berlurik yang rerata umurnya sudah 60 tahun ke atas. Kesan pertama kami adalah: mampukah kakek-kakek ini membawa kami di atas becaknya?

Tapi senyum lebar para renta itu sedikit melegakan kami. Baiklah, saya memilih becak ketujuh, dan Mbah Ahmad Saruji yang bertubuh ramping siap membawa saya ke destinasi pertama; Kampoeng Heritage Kajoetangan.

Kampoeng Heritage Kajoetangan

Jarak tempuh antara Hotel Tugu dan Kajoetangan hanya sejauh 1,1 kilometer dengan melewati jalan protokol. Mbah Saruji mengayuh becaknya dengan semangat yang tak saya kira sebelumnya. Dari hotel, rombongan kami keluar ke Jalan Tugu, lalu belok kanan ke Jalan Majapahit.

Sekitar 200 meter kemudian, jalan sedikit menanjak dan satu persatu para pengayuh mulai turun dari sadel dan pedal kayuhnya, mendorong becak berpenumpang. Tak henti-hentinya teman-teman lain menyemangati masing-masing tukangnya, meminta mereka bersabar dan tak memaksakan tenaga. Di titik itu, antara rasa tidak enak dan tanggung jawab begitu transparan.

Hal berbeda terlihat dari Mbah Saruji, tenaganya masih hebat. "Enggak. Sudah terbiasa," jawabnya ketika saya menanyakan kenapa dia tidak ikut turun saja seperti yang lainnya.

Lelaki yang lahir pada 64 tahun lalu itu mengaku sudah 30 tahun melayani penumpang becaknya di Malang. Mengantar penumpang dari Hotel Tugu ke berbagai titik wisata di sekitarnya sudah menjadi rutinitasnya. Bahkan, ia mengaku kerap mengantar tamu hotel dari berbagai negara.

"Biasanya bule, ada 15 sampai 20 orang (dalam rombongan)," kata dia yang selalu mengahiri kata-katanya dengan kekehan kecil.

Read Entire Article
Politics | | | |