Ini Dampak Positif Visual Art Bagi Anak Berkebutuhan Khusus

1 hour ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Setiap anak lahir dengan membawa keunikan masing-masing, tak terkecuali bagi anak-anak berkebutuhan khusus (ABK). Di balik tantangan yang mereka hadapi, tersimpan potensi besar yang sering kali hanya membutuhkan wadah yang tepat untuk meledak menjadi sebuah prestasi.

Sekolah Cikal memahami dinamika ini dengan menghadirkan ruang pengembangan diri yang inklusif melalui Visual Art Vocational Program. Program vokasi seni rupa ini bukan sekadar aktivitas mengisi waktu luang atau hobi semata, melainkan sebuah kurikulum terstruktur yang dirancang untuk mendukung transisi ABK menuju kemandirian di masa depan.

Melalui pendekatan yang humanis, anak-anak diberikan kesempatan untuk mengeksplorasi minat mereka, baik itu di bidang seni, sains, maupun teknologi, agar mereka dapat tumbuh secara optimal sesuai kapasitas uniknya. Pendidikan Inklusi Cikal Coordinator Associate, Muthia Devita, mengatakan program ini memiliki fondasi yang kuat pada pengembangan fungsional.

“Visual Art Vocational Program adalah program keterampilan seni visual yang berfokus pada pengembangan kemampuan fungsional dan vokasional melalui kegiatan seni, seperti menggambar, melukis, eksplorasi media, hingga produksi karya,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima Republika pada Jumat (6/2/2026).

Di sini, seni menjadi bahasa universal yang menjembatani pikiran anak dengan realitas di sekitarnya. Dengan kurikulum yang menitikberatkan pada praktik langsung, para murid diajak untuk tidak hanya memahami teori, tetapi benar-benar terjun ke dalam proses kreatif yang nyata.

Tujuan besar di balik inisiatif ini mencakup aspek pengenalan jati diri dan persiapan masa depan. Menurut Devita, sangat penting bagi ABK untuk mengenali apa yang menjadi kekuatan dan potensi mereka sejak dini.

“Tujuan program ini adalah membantu anak dalam mengenali minat, kekuatan, dan potensi diri. Visual Art Vocational Program dapat menjadi jembatan menuju produktivitas di masa depan, sesuai kapasitas masing-masing anak,” kata dia.

Dengan menemukan rasa percaya diri melalui karya, anak-anak ini tidak lagi dipandang dari apa yang "tidak bisa" mereka lakukan, melainkan dari karya luar biasa yang berhasil mereka ciptakan. Hal ini menjadi modal berharga bagi mereka untuk menghadapi tantangan di kehidupan nyata yang menuntut kemandirian.

Dalam pelaksanaannya, Sekolah Cikal memberikan akomodasi belajar yang sangat personal. Pembelajaran dilakukan dalam kelompok kecil agar setiap anak mendapatkan perhatian penuh. Devita mengatakan kelas biasanya hanya terdiri dari empat hingga enam murid dengan bimbingan satu orang guru.

“Dalam program ini para murid mendapatkan teori serta materi dengan komposisi 20-30 persen, dan selebihnya aktivitas yang dilakukan akan lebih banyak dalam bentuk praktik,” ujar Devita.

Model seperti ini dinilai sangat efektif bagi ABK karena mereka belajar melalui pengalaman sensorik dan motorik yang repetitif namun menyenangkan. Pengaruh dari program vokasi ini terasa dalam jangka pendek maupun panjang.

“Pengaruh jangka pendek, anak mampu mengekspresikan emosi melalui karya visual, meningkatnya rasa percaya diri karena dihargai atas hasil karyanya, dan anak terbiasa mengikuti instruksi dan menghargai proses,” kata dia.

Sementara itu, untuk visi jangka panjang, keterampilan ini menjadi bekal vokasional dasar yang bisa dikembangkan lebih lanjut. Di jenjang SMA, Sekolah Cikal rutin memberikan ruang bagi para murid untuk memamerkan karya mereka, seperti yang dilakukan enam murid SMA Cikal Lebak Bulus di Astra Infra Sustainability Fest 2025. Pameran ini menjadi bukti nyata bahwa dengan dukungan yang tepat, ABK mampu unjuk gigi dan memberikan kontribusi yang diakui secara luas oleh masyarakat.

Read Entire Article
Politics | | | |