100 Ton Lebih Ikan di Waduk Saguling dan Cirata Mati Massal, Ini Pemicunya

17 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG BARAT -- Kematian massal ikan milik para petani keramba jaring apung (KJA) terjadi di perairan Waduk Saguling dan Waduk Cirata, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat. Sebanyak 121,8 ton mati hanya dalam periode 24-27 Januari 2026.

Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan KBB Wiwin Aprianti mengatakan, kematian massal ikan milik para petani KJA itu dikarenakan fenomena umbalan yakni naiknya massa air dari dasar waduk ke permukaan yang membawa zat beracun dan menurunkan kadar oksigen terlarut. Kondisi itu dipicu cuaca ekstrem yang mengganggu kualitas air di perairan waduk.

"Ini dipicu kondisi cuaca ekstrem beberapa hari terakhir. Terjadi pembalikan massa air atau umbalan yang membuat kualitas air turun drastis dan ikan tidak mampu bertahan," kata Wiwin saat dikonfirmasi, Selasa (2/2/2026).

Kematian ikan paling banyak terjadi di Waduk Saguling dan tersebar di sejumlah wilayah perairan, yakni Cililin, Cihampelas, Cipongkor, dan Saguling. Beberapa titik dengan angka kematian tertinggi di antaranya Blok Pakuwon mencapai 28 ton, Perlas 20 ton, serta Bojonglangkap 12,5 ton. Jenis ikan yang paling banyak mati adalah nila dan ikan mas milik pembudidaya keramba.

Sementara itu, di Waduk Cirata, kematian ikan juga terjadi di sejumlah blok perairan seperti Cibungur, Citatah, Sangkali, Cibogo, Gandasoli, Cigandu, dan Cipanas. Namun volume kematian di setiap titik dilaporkan di bawah satu kuintal.

Data kematian ikan dihimpun dari laporan pengepul dan pelaku budidaya keramba di kawasan Waduk Saguling dan Cirata. Pihaknya meminta pembudidaya tidak menambah padat tebar dalam waktu dekat dan disiplin menerapkan langkah mitigasi.

Menurut Wiwin, peristiwa ini berdampak langsung terhadap aktivitas budidaya dan menjadi tanda daya dukung perairan sedang tertekan. Pihaknya sebelumnya sudah mengeluarkan surat peringatan dini potensi kematian massal ikan di perairan umum kepada para pembudidaya keramba. Imbauan itu mencakup pengurangan kepadatan tebar dan peningkatan pemantauan kualitas air.

"Surat peringatan sudah kami sampaikan jauh hari. Kondisi cuaca, dinamika air, dan beban keramba harus jadi perhatian. Jika daya dukung waduk terlampaui, risikonya kematian massal seperti ini," ujar Wiwin.

Read Entire Article
Politics | | | |