Perusahaan Militer Zionis Raup Keuntungan Besar dari Tragedi di Palestina

5 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di jantung ekonomi Israel, ada sebuah mesin yang bergemuruh tanpa henti: sektor teknologi yang dibangun di atas fondasi keahlian para insinyur dan programmer lulusan unit intelijen elit. Mereka datang dari komunitas- komunitas dekat perbatasan Gaza, hidup dalam ritme berganti antara pakaian sipil dan seragam militer, membawa budaya Silicon Valley ke dalam ruang perang. Mesin ini, bagai raksasa yang hawillmu, mengubah data menjadi daftar target, algoritma menjadi senjata.

Eran Toch, profesor teknik di Universitas Tel Aviv, mengakui paradoks yang lahir dari mesin perang berbasis AI ini, sebagaimana diberitakan Skynews Arab. Sistem-sistem canggih itu, katanya, memberi Israel kemampuan menyerang dengan kecepatan dan skala yang mengerikan, sebuah "hujan besi dan api" yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap Hamas di Gaza. Namun, teknologi yang sama memperlihatkan kebutaannya yang paling mengkhawatirkan: ketidakmampuan untuk menilai nyawa sipil, mengukur penderitaan manusia, atau memahami gelombang kehancuran yang ditimbulkannya. AI menjadi algojo yang efisien namun tak berperasaan.

Di sisi lain, eksekutif seperti Michal Mor membela teknologi ini dengan narasi penyelamatan. Perusahaannya mengembangkan senapan bertenaga AI yang mampu mendeteksi dan menembak sasaran dengan klaim presisi tinggi, sebuah "mata dewa" di ujung laras yang katanya menyelamatkan nyawa tentara dan warga sipil. Narasi ini dibungkus rapi dalam retorika humaniter, seolah-olah setiap algoritma adalah malaikat pelindung. Namun, di Gaza, teknologi yang sama ini beroperasi di lingkungan padat penduduk, di mana garis antara kombatan dan warga sipil sering kabur oleh debu reruntuhan dan kepanikan.

Sementara itu, di tanah Gaza yang terkepung, realitas yang terjadi adalah potret kegagalan teknologi tersebut. Setiap hari, berita-berita menerobos blokade informasi: gambar anak-anak yang terperangkap di bawah beton, keluarga yang mengais makanan di antara puing, rumah sakit yang beroperasi tanpa listrik. Di sini, "kecerdasan buatan" berubah menjadi "kebodohan buatan", sebuah sistem yang secara teknis canggih namun secara moral tumpul, mengorbankan kemanusiaan demi efisiensi militer. Gaza menjadi laboratorium uji coba yang mengerikan bagi mesin-mesin perang generasi baru.

Tragisnya, di balik layar penderitaan ini, mesin ekonomi Israel terus mencetak keuntungan. Perusahaan-perusahaan pertahanan justru menemukan momentum untuk memasarkan "produk" mereka yang telah teruji di medan perang sesungguhnya. Mereka menjual narasi keberhasilan teknis sambil mengaburkan biaya kemanusiaannya. Bagi mereka, Gaza bukan hanya medan pertempuran, tetapi juga pameran dagang global, sebuah etalase yang dibayar dengan darah dan air mata warga Palestina.

Namun, dunia mulai membuka mata. Tuduhan genosida dan kelaparan buatan yang mengemuka, disertai surat perintah penangkapan dari Mahkamah Pidana Internasional untuk PM Netanyahu dan mantan Menhan Gallant, telah memicu gelombang penolakan. Banyak negara Eropa memberlakukan embargo senjata, mencoba memutus aliran teknologi mematikan ke Israel. Tembok mulai dibangun di sekitar mesin perang itu.

Read Entire Article
Politics | | | |