Wajah Semringah Perajin Genteng Majalengka Mendengar 'Gentengisasi'

2 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, MAJALENGKA – Presiden Prabowo Subianto menginginkan adanya gerakan nasional penggantian atap seng menjadi genting berbahan tanah liat. Keinginan 'gentengisasi' dari presiden itupun disambut semringah perajin genteng di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat.

Seorang perajin genteng di sentra genteng Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, Syamsul (25 tahun), mengaku siap memenuhi lonjakan permintaan jika gentengisasi yang digaungkan presiden itu terealisasi. “Sanggup, siap,” ujar Syamsul, saat ditemui di lokasi pabrik gentengnya di Desa Burujul Wetan, Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, Selasa (3/2/2026).

Syamsul memiliki pekerja sebanyak 35 orang. Adapun produksi gentengnya mencapai sekitar 1.800 genteng per hari. Jika permintaan melonjak, maka jumlah pekerja maupun produksinya juga akan ditingkatkan.

Selama ini, Syamsul rutin mengirimkan genteng-gentengnya kepada para pelanggan, terutama toko material, yang tersebar di berbagai daerah. Selain di Wilayah Ciayumajakuning, gentengnya juga dikirimkan ke pelanggan di luar daerah, seperti Bandung, Garut, Semarang, Kendal, Tegal dan Brebes.

“Alhamdulillah rutin kirim genteng (sebanyak) empat mobil per minggu, jumlahnya sekitar 18 ribuan genteng,” jelasnya.

Dengan memakai merek genteng ‘Sri Jaya’, Syamsul menjalankan usaha pembuatan genteng sejak 2018. Ia mewarisi usaha itu dari almarhum ayahnya, yang sudah memulai usaha tersebut sejak 2005.

Syamsul memproduksi genteng dengan dua bentuk, yakni morando yang bentuknya gelombang besar melengkung dan plentong yang bentuknya cenderung rata dengan sedikit gelombang. Untuk memenuhi selera pasar, genteng morando, dan plentong itupun dibuat dua versi, yakni glazur dan natural.

Untuk genteng glazur, diberi zat tambahan yang membuat warnanya jadi mengkilap (glossy). Sedangkan versi natural, menampilkan warna tanah liat yang alami.

Untuk harganya, Syamsul menjual di kisaran Rp 3.800–Rp 4.000 per genteng untuk jenis morando glazur dan Rp 2.500–Rp 2.600 per genteng untuk morando natural. Sedangkan plentong glazur di kisaran Rp 2.800–Rp 3.000 per genteng dan plentong natural Rp 1.800–Rp 2.000 per genteng.

“Yang glazur lebih mahal karena ada tambahan obat (zat pewarna) dan dua kali pembakaran,” kata Syamsul.

Dalam memproduksi gentengnya, Syamsul menggunakan cara tradisional dan sangat mengandalkan alam berupa sinar matahari untuk proses penjemuran. Awal prosesnya, bahan baku genteng yang bentuknya sudah seperti adonan dicetak terlebih dulu, kemudian di-press dan dimasukkan ke ruangan agar lebih mengeras.

Setelah mengeras, selanjutnya dijemur di bawah sinar matahari selama lima sampai enam jam. Usai dijemur, genteng yang setengah jadi itu dimasukkan ke dalam tungku untuk dibakar.

“Kalau hawu (tungku) sudah full, baru dibakar. Kapasitas tungku bisa muat 8.000 genteng ukuran besar. Kalau yang kecil bisa muat 15 ribu genteng,” katanya.

Read Entire Article
Politics | | | |