REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Konflik dan perang adalah sumber petaka yang dihindari. Namun, Korea Selatan (Korsel) punya cara "gila" untuk membalikkan keadaan. Di tangan mereka, ketegangan politik dan ladang ranjau justru disulap menjadi destinasi wisata premium yang menghasilkan triliun Won.
Fenomena inilah yang disaksikan langsung oleh rombongan penulis Diamond KBM App, yaitu Bunga BTP, Dwi Indrawati, Majarani, Ka Umay, Yazmin Aisyah, FebriYthi, Julli Nobasa, dan Lebah Ratih. Mereka menjelajahi zona perbatasan paling ketat di dunia bersama penulis Asma Nadia didampingi Panirama Tour.
Mengunjungi Demilitarized Zone (DMZ) bukanlah perjalanan murah atau santai. Jaraknya yang jauh dari Seoul dan risiko keamanan yang tinggi justru menjadi daya tarik bagi wisatawan dunia.
Korsel mampu "pengalaman perang" dalam berbagai paket yang selalu ludes terjual. Di The Third Tunnel Tour, wisatawan diajak masuk ke dalam terowongan rahasia di ke dalaman 73 meter bawah tanah.
"Terowongan ini konon dibangun Korea Utara (Korut) untuk menyerang Seoul secara mendadak. Hanya dalam satu jam, 30 ribu tentara bersenjata lengkap bisa menyeberang lewat sini. Menyeramkan, tapi sangat laku!" kata penulis Isa Alamsyah kepada awak media di Jakarta, Rabu (4/2/2026).
Lokasi observatory dan gondola, sebuah paket yang membawa turis ke dataran tinggi untuk meneropong wilayah Korut secara langsung. Paket tersebut biasanya berkisar antara Rp 180 ribu-Rp 300 ribu untuk tiket masuk, belum termasuk biaya transportasi pribadi yang bisa mencapai jutaan rupiah. "Terakhir Imjingak Park, di sini terdapat museum alat perang dan jembatan kebebasan yang ikonik," ucap Isa.
Menurut Isa, kejelian Korsel idak berhenti di objek wisata. Dia memperhatikan jalan-jalan raya besar menuju perbatasan, dan menemukan keunikan. Hal itu karena jalanan tersebut luas tanpa trotoar pemisah permanen di tengahnya. "Tujuannya? Agar jika perang pecah sewaktu-waktu, jalan raya tersebut bisa langsung berubah fungsi menjadi landasan darurat bagi pesawat tempur," ujarnya.
Sementara Asma Nadia menilai, Korsel saat ini sangat jauh berbeda dengan kunjungannya 20 tahun lalu. "Saya masih ingat betul, ketika baru keluar dari gerbang sebuah museum, seorang nenek tiba-tiba menyoraki saya yang mengenakan jilbab. 'Teroris! Teroris!'' teriaknya. Begitu buruknya citra Islam di mata mereka saat itu," ucapnya.

2 hours ago
7















































