Wali Kota Bandung Usulkan Monumen di TPU Cikadut Jadi Cagar Budaya

6 hours ago 9

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Wali Kota Bandung Muhammad Farhan bakal menerjunkan tim melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung untuk mengkaji Tempat Pemakaman Umum (TPU) Cikadut menjadi cagar budaya. Ia mengatakan akan menggandeng masyarakat untuk membahas hal itu.

"Bangunan-bangunan makam yang ada di Cikadut ini akan dilakukan kajian sehingga bisa dikeluarkan SK pemerintah kota bahwa ini adalah cagar budaya," ucap dia saat meresmikan monumen cengbeng di TPU Cikadut, Ahad (29/3/2026).

Ia menuturkan Pemkot Bandung saat ini telah memiliki peraturan daerah tentang cagar budaya yang berfungsi memberikan perlindungan terhadap cagar budaya. Untuk mendapatkan status cagar budaya, Farhan menyebut bakal terlebih dahulu melakukan kajian.

"Saya sangat setuju (TPU Cikadut jadi cagar budaya)," kata dia.

Ia menilai kajian terhadap rencana TPU Cikadut menjadi cagar budaya tidak mudah. Sebab, beberapa yang harus diperhatikan apakah cagar budaya meliputi seluruh TPU Cikadut seluas 56 hektar atau hanya sebagian.

"Kajiannya juga mesti clear. Mau seberapa banyak yang akan dijadikan sebagai cagar budaya. Apa kategorinya? Apa klasifikasinya? Apa definisinya? Apakah semua makam? Atau hanya makam-makam tertentu saja? Apakah ada makam yang harus dinyatakan sebagai cagar budaya apabila usianya sudah sekian puluh tahun?" kata dia.

Farhan mengatakan Kota Bandung dibangun sebagai kota kosmopolitan dengan ciri keberagaman budaya dan latar belakang ras. Ia mencontohkan beberapa kelompok budaya terdapat di Kota Bandung mulai dari budaya Tionghoa, Jepang, Arab, Belanda, Inggris dan Sunda.

"Jadi semua orang harus terlibat dalam bentuk penyatuan atau penyatuan kebhinekaam dari latar belakang budaya kita," kata dia.

Ia menyebut penetapan status cagar budaya sangat bergantung kepada kajian yang akan disusun. Selanjutnya, apabila kajian dilakukan dan telah selesai maka akan dikeluarkan surat keputusan.

Perwakilan Masyarakat Tionghoa Peduli dan Paguyubang Sosial Marga Tionghoa Indonesia Djoni Toat mengapresiasi peresmian monumen cengbeng sebagai cagar budaya. Ia mengatakan cengbeng merupakan kebiasaan nyekar di kalangan masyarakat Tionghoa.

"Menurut kami ini untuk semua golongan dan agama, kebiasaan di kami nyekar kalau di Tionghoa cengbeng menghormati leluhur. Tanpa ada leluhur kita tidak ada di sini kami bersyukur," kata dia.

Sesepuh masyarakat Tionghoa Abah Oting Hambali mengatakan peresmian monumen cengbeng bagian dari upaya merawat dan melestarikan makam-makam di TPU Cikadut. Ia mengatakan keberadaan TPU Cikadut sudah lebih dari 100 tahun.

"Tujuannya menghormati (leluhur) kalau tidak ada mereka di sini kan tidak ada kita juga," kata dia.

Read Entire Article
Politics | | | |