‘Tubuh dan Tulang Mereka Meleleh’, Kisah Pencarian Korban Pemboman Israel di Gaza

2 hours ago 5

Oleh Muhammad Rabah dari Gaza

REPUBLIKA.CO.ID, GAZA -- Di sudut perumahan yang hancur menjadi debu, Mahmoud Abu Ismail (37 tahun) berdiri di atas tumpukan puing yang dulunya merupakan bangunan tempat tinggal enam lantai yang penuh dengan kehidupan. Bangunan yang dulu rumahnya itu kini tidak lebih dari 400 hingga 500 ton beton pecah dan besi bengkok. 

Di antara reruntuhan di wilayah al-Sabra, Kota Gaza itu, ada kelima anaknya. Tertimbun bersama istrinya yang sedang hamil. Di sana juga tinggal saudaranya Ahmad, istrinya, dan keempat anaknya.

Kini tidak ada yang tersisa kecuali puing-puing, dan seorang ayah yang berduka memegang saringan, kapak, dan palu seberat lima kilogram, mencari tulang belulang orang-orang yang ia sayangi.

“Seluruh wilayah dibom. Alhamdulillah, istri saya dan semua anak saya syahid. Kakak saya Ahmad berada di gedung yang sama bersama istri dan empat anaknya – mereka dihapus dari catatan sipil,” ujarnya ditemui jurnalis Muhammad Rabah di Kota Gaza.

Mahmoud mengucapkan “alhamdulillah” dengan suara gemetar, seolah-olah itu adalah benang terakhir yang menyatukannya. Dalam sekejap, dua keluarga lenyap dari catatan kehidupan.

Setelah pemboman tahun lalu itu, dia mencari bantuan. Mengiba pada institusi, asosiasi, pertahanan sipil – siapa pun yang mungkin membantu memulihkan jenazah yang terkubur di bawah reruntuhan.

“Pasukan penjajah mengebom markas besar kotamadya dan pusat pertahanan sipil serta membunuh staf mereka. Saya mengiba setiap institusi dan organisasi, namun prioritasnya ada di tempat lain – membuka kembali jalan, membersihkan jalan, menggali reruntuhan.”

Di kota yang dilanda kehancuran, bahkan orang mati pun harus menunggu giliran.

Jauh di lubuk hatinya, dia tahu istri dan anak-anaknya “di surga, Insya Allah.” Tapi dia ingin menguburkannya. Untuk mendoakan mereka. Untuk memberi mereka martabat perpisahan yang pantas.

“Istri dan anak-anak saya mempunyai hak untuk dihormati, dimakamkan di pemakaman Muslim, dan saya berhak mendoakan mereka. Tapi bagaimana seseorang bisa mengangkat ratusan ton beton sendirian?”

Mahmoud terluka dalam pemboman tersebut. Dia sedang berada di dalam gedung ketika bangunan itu dihantam dan menderita luka serius. ”Saya bersama mereka di gedung yang sama. Saya dijadwalkan meninggalkan Gaza untuk berobat, namun secara psikologis saya hancur. Saya terus bertanya pada diri sendiri: Jika saya pergi, siapa yang akan mengangkat mereka dari bawah reruntuhan?”

Enam Lantai Duka

Tanpa mesin dan bantuan, Mahmoud beralih ke apa yang disebutnya “peralatan primitif”: palu yang berat, kapak, dan akhirnya, saringan.

Rumah Mahmoud yang ambruk tingginya enam lantai. Sementara palu yang ia pakai beratnya setidaknya lima kilogram. “Sangat sulit untuk membersihkan puing-puing rumah seperti ini. Orang tidak dapat sepenuhnya memahaminya. Namun tekad, luka dalam diri saya, mendorong saya untuk menemukan jenazah mereka sehingga hati saya dapat menemukan kedamaian.”

Dia mulai dari atas, membongkar reruntuhan lapis demi lapis – pertama lempengan atas, lalu yang kedua, lalu yang ketiga. Hari-hari penuh debu, asap, dan bau api yang masih melekat. 

Akhirnya, ia menemukan jenazah saudara laki-lakinya, Ahmad, lalu istri saudara laki-lakinya, dan keempat anak mereka. Dia tidak berhenti. Dia tahu persis di mana anak-anaknya tidur. Dia bersama mereka pada malam pengeboman. Dia tahu tempat terakhir mereka berada di sisi barat apartemen.

Ketika sampai di sana, dia hanya menemukan bekas terbakar yang parah. “Saya menyadari istri dan anak-anak saya terbakar seluruhnya.”

Dia berhenti sejenak, lalu melanjutkan: Saya ingat anak-anak saya ada di satu bagian ruangan, dan istri saya ada di bagian lain. Dia hamil, di hari-hari terakhir bulan kesembilannya – akan melahirkan.”

Kehidupan baru akan memasuki dunia. Pengeboman tiba lebih dulu. Dia mengatakan tubuh anak-anaknya terbakar habis – “Tulang dan tubuh mereka meleleh, dan mereka sekarang bersama Tuhan, Insya Allah.” 

Israel dilaporkan menggunakan sejumlah bom terlarang buatan Amerika Serikat di Jalur Gaza. Bom itu menguapkan ribuan syuhada di Jalur Gaza menjadi abu nyaris tanpa sisa..

Menurut investigasi Aljazirah Arab, tim Pertahanan Sipil di Gaza telah mendokumentasikan 2.842 warga Palestina yang telah “menguap” sejak perang dimulai pada Oktober 2023. Para korban tidak meninggalkan sisa selain cipratan darah atau potongan kecil daging.

Para ahli dan saksi mengaitkan fenomena ini dengan penggunaan sistematis senjata termal dan termobarik oleh Israel. Senjata yang dilarang secara internasional itu sering disebut sebagai bom vakum atau aerosol, yang mampu menghasilkan suhu melebihi 3.500 derajat Celcius. Investigasi tersebut mengidentifikasi amunisi spesifik buatan AS yang digunakan Israel di Gaza yang terkait dengan penghilangan tersebut. 

Mahmoud pindah ke sisi timur, tempat istrinya berada saat pemboman. Di antara abu dan pecahan beton, dia mencari dengan tangan kosong.

“Saya terus mencari tanpa kenal lelah. Saya menemukan tulang. Saya paham ini adalah janin yang ada di dalam rahimnya.” Tulang-tulangnya kecil. Warnanya sama dengan tanah. Hampir tidak bisa dibedakan dari debu.

“Saya menyaring pasir dari pecahan batu dan membakar puing-puing.”

Ia memilah puing-puing seolah-olah mengayak biji-bijian — bukan mencari hasil panen, tapi mencari pecahan dari seorang anak yang tidak pernah melihat cahaya siang hari.

“Alhamdulillah, saya menemukan beberapa tulang yang Anda lihat.” Dia memegangnya dengan hati-hati dengan tangan gemetar, seolah-olah itu adalah harta karun, seolah-olah seluruh dunia di tangannya.

Mahmoud Abu Ismail mencari sisa-sisa anak-anak dan istri yang dibunuh pasukan Israel saat mengebom rumahnya di al Sabra, Kota Gaza.

Mahmoud tidak banyak bicara tentang dirinya. Dia memilih berbicara tentang martabat – hak untuk menguburkan orang mati, hak untuk mengucapkan selamat tinggal.

"Saya berharap gambar-gambar ini sampai kepada para pemimpin negara-negara Arab dan Islam yang menerapkan standar ganda. Ketika mereka ingin mengambil jenazah tentara Israel, penyeberangan dibuka dan bantuan diberikan untuk mengambil jenazah mereka. Namun jika menyangkut para syuhada kami, tidak ada yang bergerak."

Hanya bermodalkan palu dan saringan, Mahmoud tidak punya panggung politik, tidak dapat sorotan yang megah. Dia hanya memiliki tulang-tulang kecil di telapak tangannya – dan sebuah rumah yang telah menjadi kuburan massal.

Setiap pukulan palunya pada beton bukan sekadar upaya untuk memindahkan batu — melainkan upaya untuk menenangkan hati seorang ayah. Setiap segenggam debu yang diayak membawa kemungkinan menemukan serpihan cinta lainnya.

Di penghujung hari, dia duduk di atas reruntuhan yang pernah menjadi tempat berlindung keluarganya. Tidak lagi mencari keajaiban untuk menghidupkan mereka kembali.

Hanya serpihan tulang-tulang untuk dibungkus dengan kain kafan, untuk shalat terakhir mereka.

Read Entire Article
Politics | | | |