Toko Kelontong Didorong Adaptif Hadapi Perubahan Pasar dan Digitalisasi

10 hours ago 17

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Toko kelontong menghadapi tantangan yang semakin kompleks di tengah perubahan pola belanja masyarakat, ekspansi ritel modern, hingga percepatan digitalisasi sektor perdagangan. Kondisi tersebut mendorong pelaku usaha kecil untuk beradaptasi agar tetap bertahan dan menjaga keberlangsungan usaha.

Sampoerna Retail Community (SRC) menjalankan pendampingan terhadap pemilik toko kelontong melalui penguatan manajemen usaha, pemanfaatan teknologi digital, hingga pengembangan komunitas usaha.

Selain aspek bisnis, perhatian terhadap kesehatan pelaku usaha juga mulai menjadi perhatian. Pada pekan lalu, SRC menggelar program cek kesehatan gratis yang diikuti sekitar 500 pemilik toko di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.

Kegiatan tersebut dihadiri Sekretaris Daerah Provinsi DKI Jakarta Uus Kuswanto, Anggota Komisi IX DPR RI Indah Kurnia, Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Ani Ruspitawati, serta Direktur PT SRC Indonesia Sembilan Romulus Sutanto.

Sekretaris Daerah Provinsi DKI Jakarta Uus Kuswanto mengatakan kegiatan kesehatan bagi pelaku UMKM dapat membantu menjaga produktivitas masyarakat.

“Kami atas nama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengucapkan terima kasih atas kepedulian SRC kepada masyarakat melalui kegiatan ini. Mudah-mudahan kegiatan ini bisa bermanfaat,” kata Uus berdasarkan siaran pers SRC, Kamis (28/5/2026).

Sementara itu, Anggota Komisi IX DPR RI Indah Kurnia menilai kesehatan pelaku UMKM, khususnya perempuan pemilik usaha, memiliki kaitan dengan ketahanan ekonomi keluarga.

“Kontribusi para ibu sangat berarti bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia, sehingga ibu-ibu pemilik toko kelontong SRC harus tetap sehat,” ujar Indah.

Di sisi lain, transformasi digital juga menjadi faktor yang memengaruhi keberlangsungan usaha toko kelontong. SRC menyebut sebagian besar toko dalam ekosistemnya telah memanfaatkan layanan digital untuk transaksi dan pengelolaan usaha.

Presiden Direktur PT HM Sampoerna Tbk Ivan Cahyadi mengatakan SRC yang dimulai dari 57 toko pada 2008 kini berkembang menjadi jaringan ritel tradisional dengan lebih dari 250 ribu toko di berbagai daerah.

Menurut Ivan, pendampingan dilakukan melalui penguatan keterampilan usaha dan pemanfaatan teknologi digital agar pelaku UMKM mampu beradaptasi dengan perubahan perilaku konsumen.

Berdasarkan hasil riset KG Media 2026, total omzet ekosistem SRC mencapai Rp251 triliun per tahun atau setara 9,5 persen Produk Domestik Bruto ritel nasional 2025.

Selain menjual produk kebutuhan harian, sebagian toko SRC juga menjadi saluran distribusi produk UMKM lokal melalui program Pojok Lokal. Pendekatan tersebut dinilai membantu memperluas akses pemasaran bagi usaha kecil di sekitar lingkungan toko.

Pendampingan usaha dan penguatan komunitas dinilai menjadi salah satu strategi agar toko kelontong tetap mampu bersaing di tengah perubahan lanskap perdagangan ritel nasional.

Read Entire Article
Politics | | | |