Begini Analisis Psikolog soal Pelajar SMPN 26 Bandung yang Dibunuh Temannya

3 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG BARAT -- Psikolog Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani) Miryam Ariadne Sigarlaki menanggapi kasus pembunuhan terhadap seorang pelajar SMPN 26 Bandung, ZAA (14 tahun) yang dilakukan YA (16) dan AP (17). Tersangka dan korban diketahui memiliki hubungan pertemanan.

Pembunuhan yang dilakukan di eks objek wisata Kampung Gajah, Desa Cihideung, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat itu dipicu sakit hati YA karena korban sudah memutuskan pertemanan. YA akhirnya mengajak tersangka AP dari Garut ke Bandung untuk menemui dan niat untuk menghabisi korban dengan cara memukul kepala menggunakan botol hingga menusuk bagian perut menggunakan senjata tajam.

Miryam menjelaskan, dalam kacamata psikologi, peristiwa putus pertemanan antara korban dan pelaku bisa memicu rasa malu dan marah yang kuat pada sebagian remaja, emosi tersebut dapat semakin menguat ketika dipelihara oleh pikiran yang berulang.

"Dalam psikologi, putus pertemanan ini bisa saja memicu luka secara psikologis. Malu, kemudian marah. Pada sebagian remaja, emosi itu bisa menguat jika ada pikiran yang berulang-ulang. Rasa yang dipermalukan dengan pikiran-pikiran buruk yang menguatkan perasaan itu," jelas Miryam saat dihubungi, Selasa (17/2/2026).

Menurut Miryam, kondisi itu dapat membuat remaja kesulitan meregulasi emosi dan melihat persoalan secara hitam-putih tanpa mempertimbangkan konsekuensi lebih luas. Alhasil, orang yang merasa tersakiti itu menjadi gelap mata.

"Kemudian itu bisa menjadikan seseorang ini kesulitan untuk meregulasi emosinya. Jadi dia hanya berpikir hitam putih saja tanpa mempertimbangkan beberapa hal. Ini bukan pembenaran tapi penjelasan mekanisme risiko," kata Miryam.

Menurutnya, penolakan dalam relasi pertemanan seperti diputuskan, dijauhi, atau ditinggalkan bisa terasa sebagai ancaman serius bagi identitas dan harga diri remaja yang sedang membentuk jati diri. "Ancaman identitas dan harga diri. Terutama pada remaja yang sedang membentuk jati dirinya. Terjadi crisis identity," ucapnya.

Dalam prosesnya, eskalasi menuju kekerasan tidak terjadi secara instan, melainkan melalui tahapan. Rasa sedih dapat berkembang menjadi malu dan terhina, lalu berubah menjadi kemarahan yang tidak terolah. Ada jembatan proses berupa ruminasi atau pikiran yang berulang tentang ketidakadilan karena dijauhkan. Pikiran tersebut, kata dia, memberi “makan” pada emosi negatif hingga semakin liar.

"Jembatan prosesnya juga bisa adanya ruminasi, pikiran yang berulang-ulang tentang ketidak adilan karena sudah dijauhkan membuat emosinya semakin liar dan itu terpelihara. Jadi kaya di feeding atau dikasih makan emosinya dengan pikiran tersebut," ungkap Miryam.

Dari ruminasi itu, menurut dia, bisa muncul pembenaran internal terhadap kekerasan dan balas dendam. "Semakin yang dia pikirkan itu menjadi merasa benar. Dari ruminasi itu, kemudian pikirannya membenarkan tindak kekerasan, ‘dia pantas mati. Kalau tidak aku semakin dipermalukan’. Ini menurunkan kendali rem moral kita," ujarnya.

Selain faktor psikologis internal, ia menekankan adanya faktor situasional yang membuka peluang terjadinya kekerasan, seperti kesempatan bertemu di tempat sepi, akses pada benda berbahaya, dan atmosfer lingkungan yang memanas.

Miryam menegaskan tidak ada faktor tunggal yang menyebabkan seseorang melakukan tindak kekerasan. Biasanya terdapat kombinasi antara kekecewaan relasi, lemahnya kontrol emosi, obsesi, pikiran berulang, dan kesempatan.

"Sampai pada tindak kekerasan tentu ini biasanya ada kombinasi. Selain rasa kecewa diputuskan pertemanan, secara internal kontrol emosinya lemah, mungkin ada obsesi, ada pemikiran yang berulang-ulang. Termasuk ada aspek kesempatan dan atmosfer yang mendukung tadi," kata dia.

Terkait pencegahan, Miryam menekankan peran sekolah dan orangtua dalam memperkuat keterampilan sosioemosional anak serta tidak hanya berfokus pada penghukuman. "Kuncinya, sekolah dan orangtua perlu memperkuat keterampilan sosioemosional pada anak-anak. Kita bisa fokus pada pencegahan, bukan menghakimi," kata Miryam.

Ia menyarankan agar tanda-tanda ancaman kekerasan, obsesi balas dendam, dan perubahan perilaku drastis pada remaja segera ditangani dengan melibatkan sekolah, orang tua, dan layanan psikologis.

"Kalau ada remaja yang menunjukan ancaman kekerasan, obsesi balas dendam yang inginnya dendam atau perubahan perilaku drstis, saran saya libatkan pihak sekolah, orang tua, atau kalau bisa layanan psikologis terdekat," kata Miryam.

Read Entire Article
Politics | | | |