REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan total kebutuhan bensin nasional mencapai sekitar 40 juta kiloliter (KL) per tahun. Dari jumlah tersebut, produksi dalam negeri baru mampu memenuhi sekitar 14 juta KL.
Artinya, lebih dari separuh kebutuhan bensin nasional masih harus dipenuhi melalui impor. “Kita impor 25 juta kiloliter. Sampai ayam tumbuh gigi, kalau tidak kita kreatif untuk membuat ini, tidak akan bisa kita produksi dalam negeri semua,” kata Bahlil dalam paparannya di Jakarta, dikutip Sabtu (14/2/2026).
Pernyataan itu ia sampaikan dalam konteks upaya pemerintah mendorong ketahanan dan kedaulatan energi sebagaimana arahan Presiden Prabowo Subianto. Bahlil menjelaskan, salah satu kunci menekan impor adalah meningkatkan lifting minyak nasional.
Ia memetakan kondisi sumur migas Indonesia yang sebagian besar telah berusia tua. Dari sekitar 40 ribu sumur yang ada, hanya sekitar 18 ribu yang masih aktif berproduksi. Sisanya merupakan sumur idle yang belum dimanfaatkan optimal.
Strategi pertama, pemerintah mendorong intervensi teknologi pada sumur tua melalui kolaborasi dan penerapan enhanced oil recovery (EOR). Strategi kedua, sumur-sumur yang tidak dikelola kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) akan ditawarkan kepada pihak swasta, baik dalam negeri maupun luar negeri, yang memiliki kemampuan teknis dan pendanaan. Strategi ketiga, pemerintah memberi ultimatum terhadap wilayah kerja yang sudah menyelesaikan plan of development (POD) namun belum masuk tahap konstruksi dan produksi.
“Ada 301 wilayah kerja yang sudah selesai eksplorasi dan belum jalan. Kalau tidak ada progres, kami evaluasi, bahkan bisa kami cabut,” ujar Bahlil.
Ia mencontohkan proyek Blok Masela yang dikelola Inpex. Setelah evaluasi dan dorongan percepatan, proyek tersebut mulai menunjukkan perkembangan dengan nilai investasi sekitar 18 miliar dolar AS.
Selain meningkatkan lifting, pemerintah juga menyiapkan strategi substitusi impor melalui pengembangan bahan bakar campuran etanol (E20) yang ditargetkan berjalan pada 2028. “Maka kita akan lakukan, di samping kita naikkan lifting, kita akan dorong namanya etanol E20 2028, dengan demikian akan mengurangi impor kita,” tutur Bahlil.
Menurut dia, desain besar tersebut diarahkan agar Indonesia pada akhirnya hanya mengimpor minyak mentah (crude), sementara seluruh produk turunan diolah di dalam negeri. Ia juga menyebut pemerintah menargetkan pada 2026 Indonesia tidak lagi mengimpor avtur, termasuk untuk bensin dengan RON 92, 95, dan 98, seiring penguatan kapasitas kilang dan pembangunan fasilitas penyimpanan.

3 hours ago
4














































