REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Dalam retorikanya yang kerap mengejutkan dunia, Presiden AS Donald Trump kali ini mengalihkan pujiannya kepada sebuah entitas yang tak pernah diduga akan dipujinya: Hamas. Dalam pernyataan-pernyataan publik terbarunya mengenai Gaza, Trump tak henti mengakui peran krusial gerakan tersebut dalam mengamankan dan memulangkan sandera-sandera Israel, baik yang masih hidup maupun yang telah menjadi jenazah.
Pujian ini bukanlah pujian kosong. Ia berangkat dari sebuah realitas operasional yang hampir mustahil: bagaimana Hamas, di tengah gempuran perang selama dua tahun dan penghancuran sistematis oleh militer Israel, berhasil menjaga puluhan sandera tetap aman dan akhirnya mengembalikannya melalui meja negosiasi.
Kisah ini bermula dari kekacauan 7 Oktober 2023. Segera setelah serangan yang mengguncang dunia itu, pimpinan Brigade Al-Qassam, sayap militer Hamas, bergerak cepat. Mereka menjalin kontak langsung dengan komandan lapangan dari berbagai faksi Palestina lain yang juga menahan sandera.
Tujuannya jelas: mengkonsolidasi, mendata, dan mengambil alih pengawasan terhadap setiap nyawa dan jenazah yang menjadi tawanan. "Ini adalah tugas yang sangat sulit dan berat. Instruksi ketat datang langsung dari pimpinan tertinggi, baik sayap politik maupun militer, untuk bekerja intensif melestarikan mereka, termasuk yang sudah meninggal," ujar sumber internal kepada Asharq Al-Awsat.
Melalui pertemuan-pertemuan rahasia, baik selama gencatan senjata November 2023 maupun yang lebih krusial pada Januari 2025, Hamas membentuk sebuah sistem koordinasi yang rapi. Mereka bekerja sama erat dengan Brigade Al-Quds dari Jihad Islam, yang dinilai memiliki kemampuan logistik dan jaringan terowongan yang lebih mumpuni.
Sandera-sandera hidup secara terus-menerus dipindahkan dari utara Gaza yang menjadi medan tempur sengit ke selatan, berpindah dari terowongan ke apartemen tersembunyi, selalu selangkah lebih depan dari pasukan Israel yang melakukan pencarian besar-besaran. Sumber mengungkapkan, "Dalam beberapa kesempatan, tentara Israel hanya berjarak beberapa meter dari beberapa korban penculikan. Tim penyelamat berhasil menyesatkan mereka atau menyelamatkan sandera dengan cara-cara yang masih dirahasiakan."
Menjaga Nyawa di Bawah Reruntuhan
Tantangan terbesarnya adalah menjaga sandera yang masih hidup tetap bertahan. Mereka dipindahkan secara konstan, di bawah pengawasan ketat, antara terowongan dalam-dalam dan lokasi persembunyian di permukaan. Sementara jenazah disimpan dengan hati-hati di kuburan khusus dalam terowongan atau di sekitar pemakaman, dijaga oleh unit-unit bayangan yang bergerak dalam senyap. Proses ini bukan hanya tugas militer murni, tetapi juga operasi logistik dan humaniter yang sangat rumit di tengah blokade, pemboman, dan kelaparan.
sumber : Antara

2 hours ago
3















































