Tekanan Pasar Mereda, BSI Nilai Dampak Revisi Outlook RI tak Berkepanjangan

3 hours ago 7

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Penurunan outlook Indonesia oleh Moody’s sempat menekan pasar keuangan domestik. Imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) naik, sementara premi risiko credit default swap (CDS) Indonesia melebar. Namun, Kepala Ekonom Bank Syariah Indonesia (BSI) Banjaran Surya Indrastomo menilai tekanan tersebut tidak berlangsung lama dan kini mulai mereda.

“Dampak penurunan outlook pada awalnya tercermin dari kenaikan imbal hasil SBN dan pelebaran premi risiko CDS. Namun, tekanan pasar mulai stabil,” kata Banjaran kepada Republika, Rabu (11/2/2026).

Banjaran mencatat, imbal hasil SBN tenor 10 tahun sempat meningkat tajam. Meski masih berada di atas level sebelum pengumuman Moody’s, pergerakannya mulai menurun ke kisaran 6,45 persen.

Pada saat yang sama, premi CDS Indonesia menyempit ke level 76,8 basis poin. Kondisi ini mengindikasikan tekanan pasar keuangan mulai mereda.

Ia menilai guncangan awal akibat penurunan outlook bersifat sementara dan tidak berkembang menjadi gangguan sistemik. Kepercayaan investor, menurutnya, masih relatif terjaga seiring fundamental ekonomi domestik yang tetap solid.

Banjaran mencontohkan perbaikan Indeks Keyakinan Konsumen serta pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) yang tercatat lebih tinggi dari ekspektasi pasar. Dari sisi biaya pendanaan, dampaknya dinilai terbatas. Hal ini tercermin dari penurunan suku bunga antarbank overnight Indonesia (IndoNIA) ke level 3,88 persen dari sebelumnya 3,91 persen.

“Likuiditas perbankan masih memadai sehingga tekanan terhadap biaya pendanaan relatif terkendali,” ujarnya.

Banjaran juga menyoroti metodologi pemeringkatan Moody’s terhadap perbankan syariah. Menurut dia, pendekatan yang digunakan belum sepenuhnya mencerminkan karakteristik bank syariah.

Ia menjelaskan, penilaian Moody’s masih mengacu pada kerangka umum perbankan konvensional melalui Bank Credit Assessment. Sementara itu, metodologi khusus untuk bank syariah belum diterapkan secara eksplisit.

“Penyesuaian kualitatif memang ada, tetapi belum terstandarisasi untuk bank syariah. Akibatnya, profil risiko bank syariah masih cenderung disamakan dengan bank konvensional,” ujar Banjaran.

Dari sisi global, Banjaran menilai prospek harga emas tetap kuat hingga 2026 seiring tingginya permintaan terhadap aset lindung nilai. “Kami memproyeksikan harga emas global bergerak di kisaran 4.395–5.445 dolar AS per ons hingga akhir 2026,” katanya.

Menurut dia, pergerakan harga emas lebih dipengaruhi faktor global sehingga perubahan outlook Indonesia tidak berdampak signifikan terhadap harga emas dunia. Risiko koreksi tajam pun dinilai relatif kecil.

Stabilitas ekonomi Amerika Serikat serta ekspektasi penurunan suku bunga acuan bank sentral AS setidaknya satu kali pada tahun ini diperkirakan menjadi faktor penopang harga emas.

Banjaran menegaskan, prospek emas tetap positif dan menjadi salah satu faktor pendukung bagi BSI dalam mengembangkan bisnis bullion bank.

Read Entire Article
Politics | | | |