Sucofindo Dorong Pasar Karbon dan Ketahanan Rantai Pasok Pangan

16 hours ago 22

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Sucofindo mengangkat pengembangan pasar karbon dan ketahanan rantai pasok pangan dalam Environmental and Social Innovation Awards (ENSIA) 2026. Dua isu tersebut dibahas sebagai bagian dari pertukaran pengetahuan mengenai inovasi untuk menjawab tantangan ekonomi, lingkungan, dan sosial.

Senior Researcher Korea Research Institute on Climate Change (KRIC) Bonn Choi mengatakan, implementasi Artikel 6 Perjanjian Paris membuka peluang pengembangan mekanisme pasar karbon sebagai instrumen pengurangan emisi.

“Implementasi Artikel 6 Perjanjian Paris (Paris Agreement) membuka peluang pengembangan mekanisme pasar karbon sebagai salah satu instrument efektif pengurangan emisi,” ujar Bonn dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (21/9/2026).

Bonn menjelaskan investasi pada teknologi inovatif dan fasilitas rendah emisi dapat menghasilkan reduksi emisi gas rumah kaca yang bernilai ekonomi melalui mekanisme pasar karbon sesuai ketentuan yang berlaku.

“Pengurangan emisi dapat memberikan dua manfaat utama, yaitu mendukung pencapaian target Nationally Determined Contribution (NDC) sekaligus membuka peluang pendapatan baru melalui transaksi perdagangan karbon,” ucap Bonn.

Menurut Bonn, Indonesia memiliki potensi proyek pengurangan emisi di berbagai sektor, mulai dari energi, efisiensi energi rumah tangga, pengelolaan limbah, pertanian berkelanjutan, kehutanan, hingga teknologi Carbon Capture and Storage/Carbon Capture, Utilization and Storage (CCS/CCUS). Dia menilai pengembangan pasar karbon perlu didukung identifikasi sektor prioritas, penguatan regulasi, dan integrasi berbagai sumber pengurangan emisi ke dalam Emissions Trading System (ETS).

“Dengan mengidentifikasi sektor prioritas, Indonesia dapat mengarahkan investasi karbon secara terukur pada proyek-proyek yang memiliki dampak lingkungan riil, manfaat ekonomi nyata, dan kontribusi pembangunan yang lebih besar,” kata Bonn.

Selain pasar karbon, ENSIA 2026 membahas ketahanan rantai pasok pangan. Asisten Deputi Logistik Pangan Kementerian Koordinator Bidang Pangan Ridky Irfan Wirautama mengatakan, sektor pertanian dan pangan menghadapi tantangan mulai dari perubahan iklim, dinamika ekonomi global, gejolak harga pangan, bencana alam, kesiapan infrastruktur logistik, hingga penyusutan lahan produktif.

“Di tengah berbagai tantangan tersebut, inovasi menjadi salah satu solusi kunci. Transformasi pengelolaan sampah, termasuk pengolahan sampah menjadi energi listrik, menunjukkan bagaimana persoalan lingkungan dapat dialihfungsikan menjadi sumber nilai ekonomi sekaligus bagian dari solusi energi,” ucap Ridky.

Ridky mengatakan pemerintah juga memperluas penerapan ekonomi sirkular pangan dan memitigasi dampak fenomena iklim ekstrem. Pada aspek logistik maritim, pengembangan pelabuhan hijau dan cerdas (green and smart port) dilakukan dengan memadukan digitalisasi, tata kelola modern, budaya Aman, Sehat, Resik, dan Indah (ASRI), serta prinsip 3R (reduce, reuse, recycle).

Ridky menyebut ekonomi biru turut menjadi salah satu pilar ketahanan pangan sekaligus membuka sumber pertumbuhan ekonomi baru di kawasan pesisir melalui pemenuhan kebutuhan pangan berprotein, penciptaan lapangan kerja, dan peluang investasi.

Dia mengatakan, Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) juga dicanangkan sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi baru di pesisir yang mengintegrasikan rantai nilai dari hulu ke hilir, mulai dari produksi penangkapan, pengolahan, fasilitas pendingin dan penyimpanan, hingga jaringan distribusi pasar.

“Melalui kolaborasi dan penyelarasan arah kebijakan pangan lintas sektor, kita dapat memastikan kelancaran sekaligus memperkuat rantai pasok dan logistik komoditas pangan agar dapat menjangkau seluruh wilayah Indonesia,” kata Ridky.

Read Entire Article
Politics | | | |