REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — SKK Migas menargetkan pengeboran 100 sumur eksplorasi pada 2026 sebagai bagian dari program percepatan hulu migas bertajuk Triple 100. Target tersebut disampaikan Kepala SKK Migas Djoko Siswanto dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (11/2/2026).
Djoko menjelaskan, realisasi pengeboran pada 2025 mencapai 35 sumur eksplorasi. Untuk 2026, awalnya ditargetkan 39 sumur, dengan capaian awal tiga sumur atau sekitar 8 persen. Namun, SKK Migas kini mendorong peningkatan signifikan hingga 100 sumur eksplorasi pada tahun berjalan.
“Namun demikian kami punya target untuk menambah pada 2026 ini mencapai target ambisius sebanyak 100 sumur eksplorasi,” kata Djoko.
Program Triple 100 mencakup 100 sumur eksplorasi, 100 kegiatan multi-stage fracturing, serta 100 sumur pengembangan. Untuk mendukung pelaksanaannya, SKK Migas telah menandatangani nota kesepahaman dengan Schlumberger dan berencana menyusul kerja sama dengan Halliburton serta PT Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI) guna memastikan kesiapan unit multi-stage fracturing.
Hingga Februari 2026, sebanyak 13 sumur eksplorasi tambahan telah disetujui melalui Work Program and Budget (WP&B) yang ditandatangani SKK Migas. Meski demikian, untuk mencapai target 100 sumur masih dibutuhkan tambahan puluhan sumur serta percepatan proses persetujuan dan mobilisasi rig.
“Dari upaya yang kami lakukan sampai Februari ini, alhamdulillah kami sudah mendapat tambahan 13 sumur eksplorasi dari WP&B yang telah ditandatangani,” ujarnya.
Djoko menuturkan, percepatan eksplorasi dilakukan untuk menahan laju penurunan alami produksi sekaligus membuka peluang temuan cadangan baru. Dalam delapan tahun terakhir, tren lifting minyak cenderung menurun dan baru menunjukkan pembalikan arah pada 2025.
Data SKK Migas mencatat lifting minyak dan kondensat pada 2024 berada di kisaran 579 ribu barel per hari (bph) dan meningkat menjadi sekitar 581 ribu bph pada 2025 tanpa memasukkan NGL. Jika NGL diperhitungkan, capaian 2025 mencapai 605 ribu bph atau sedikit melampaui target APBN.
Selain pengeboran, SKK Migas juga menargetkan peningkatan survei seismik pada 2026. Survei seismik 2D di wilayah open area ditargetkan mencapai 6.000 kilometer dan survei seismik 3D sekitar 6.173 kilometer, meski sebagian masih dalam proses pengadaan.
Sejumlah proyek hulu dijadwalkan mulai berproduksi pada 2026, antara lain fasilitas produksi Lapangan Sedingin North 1 di PHR, Lapangan Puspa Asri Pertamina EP, serta tambahan produksi kondensat dari Donggi Senoro dan PHE Offshore. Total investasi delapan proyek tersebut mencapai 478 juta dolar AS dengan potensi tambahan produksi sekitar 8.200 barel minyak per hari dan 214 MMSCFD gas.

2 hours ago
4














































