Ilustrasi makan.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mengapa sebagian orang menyukai bawang, sementara yang lain justru menghindarinya? Pertanyaan yang selama ini dianggap sekadar persoalan selera ternyata memiliki jawaban ilmiah yang lebih dalam. Para ilmuwan Australia menemukan bahwa perbedaan preferensi makanan dapat dipengaruhi oleh faktor genetik yang mengatur kemampuan manusia dalam merasakan rasa dan aroma.
Penelitian terbaru yang dilakukan para ilmuwan dari Universitas Queensland (UQ) mengembangkan kerangka kerja genetik baru yang memanfaatkan gen rasa dan penciuman untuk memahami hubungan antara pola makan dan risiko penyakit kronis. Temuan tersebut dipublikasikan setelah para peneliti menganalisis data lebih dari 160 ribu orang dewasa yang tercatat dalam UK Biobank.
Tim peneliti memeriksa 325 gen yang berkaitan dengan kemampuan mengecap rasa dan mengenali aroma. Mereka kemudian menghubungkannya dengan preferensi serta tingkat konsumsi terhadap 140 jenis makanan yang berbeda.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi genetik tertentu dapat memengaruhi makanan yang disukai seseorang. Salah satu temuan menarik adalah bahwa orang yang menyukai rasa dan aroma bawang cenderung memiliki risiko lebih rendah mengalami hipertensi dan diabetes tipe 2.
Untuk memastikan hasilnya, para peneliti melakukan validasi menggunakan kelompok peserta lain yang berasal dari Studi Longitudinal Orang Tua dan Anak-Anak Avon di Inggris. Studi tersebut melibatkan peserta yang telah dipantau sejak usia muda hingga dewasa.
Para ilmuwan kemudian menerapkan metode Mendelian randomization, yakni pendekatan yang memanfaatkan variasi genetik alami pada manusia untuk membantu membedakan hubungan sebab-akibat dari sekadar korelasi dalam penelitian kesehatan.
Peneliti dari Institut Biosains Molekuler UQ, Daniel Hwang, mengatakan bahwa menentukan apakah suatu makanan benar-benar menyebabkan penyakit atau hanya berkaitan dengannya merupakan tantangan besar dalam epidemiologi nutrisi.
Menurut dia, pendekatan berbasis gen rasa dan penciuman membuka peluang baru untuk menjawab persoalan yang selama puluhan tahun sulit dipecahkan oleh para peneliti gizi.
"Menentukan apakah makanan tertentu menyebabkan, atau terkait dengan suatu penyakit, merupakan tantangan signifikan dalam epidemiologi nutrisi," ujar Hwang dalam keterangan yang dirilis UQ.
Ia menjelaskan bahwa rasa dan aroma merupakan faktor biologis yang sangat memengaruhi pilihan makanan seseorang. Karena itu, memahami dasar genetik dari preferensi makanan dapat membantu ilmuwan memperoleh gambaran yang lebih akurat mengenai dampak pola makan terhadap kesehatan.
sumber : Xinhua

6 hours ago
14
















































