Peran Haji Dalam Gelorakan Semangat Anti-Kolonial

6 hours ago 19

Lukisan Masjidil Haram di Makkah pada pertengahan abad ke-19 M.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Makkah al-Mukarramah tidak hanya menjadi lokasi Masjidil Haram, yang di dalamnya terdapat kiblat umat Islam sedunia: Ka’bah. Kota tempat lahirnya Nabi Muhammad SAW itu juga berperan transformatif. Di sinilah, para alim ulama dari pelbagai penjuru dunia berkumpul untuk saling bertukar informasi dan tentunya mengembangkan ilmu-ilmu agama.

Menurut Prof Azyumardi Azra dalam bukunya, Jaringan Ulama Timur Tengah, hampir seluruh ulama Nusantara yang berperan sentral dalam transformasi intelektual dan sosial di Indonesia sejak abad ke-17 Masehi adalah alumni Makkah.

Sebagian mereka juga menimba ilmu di Madinah al-Munawwarah. Maka, Haramain secara keseluruhan bisa dipandang sebagai titik picu lahirnya pergerakan yang membangkitkan umat dan bangsa Indonesia umumnya.

Cengkeraman kolonialisme Belanda semakin kuat pada abad ke-18 dan 19 Masehi. Pada saat yang sama, gagasan pan-Islamisme yang mengimbau solidaritas Muslimin sedunia menguat di Makkah. Para haji Nusantara ikut menyebarkan paham tersebut, begitu kembali dari Tanah Suci ke daerah-daerah asal mereka. Tidak mengherankan, dalam kurun waktu demikian Belanda menghadapi banyak perlawanan di Nusantara yang digerakkan para haji dan mursyid tarekat-tarekat.

Tentunya, berbicara tentang Makkah tak terlepas dari ritual rukun Islam kelima. Tiap Muslim rindu berhaji, setidaknya sekali seumur hidup. Begitupun keadaannya dengan umat Islam di Indonesia.

Bagi umat Islam di Indonesia, keinginan menunaikan haji begitu besar, termasuk pada masa-masa penjajahan Belanda. Animo untuk melaksanakan rukun Islam ini makin besar jumlahnya dari tahun ke tahun. Demikian faktanya, terutama sejak Terusan Suez di Mesir dibuka pada 1869 dan kemudian hadirnya teknoloni kapal uap.

Alat transportasi itu amat membantu perjalanan dari Indonesia ke Jazirah Arab—dan sebaliknya. Rihlah haji yang sebelumnya mesti menyita waktu berbulan-bulan atau bertahun-tahun dengan kapal layar, kini dapat ditempuh dalam durasi sebulan lebih beberapa hari.

Read Entire Article
Politics | | | |