Senja, Takjil, dan Kehangatan yang Tersisa

4 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ketika senja tiba di bulan suci, kota tak hanya berubah ritme, ia menjadi panggung di mana spiritualitas, ekonomi rakyat, dan kebersamaan bertemu dalam satu tarikan napas yang sama.

Ada sesuatu tentang senja di bulan Ramadhan yang membuat kota bergerak dengan cara yang berbeda. Mataram, seperti kota-kota lain di Indonesia, merasakan perubahan itu. Udara sore yang mulai sejuk membawa hiruk-pikuk baru. Bukan hiruk-pikuk yang gaduh, tapi hiruk-pikuk yang hangat, penuh antisipasi terhadap adzan Maghrib yang akan segera berkumandang.

Di sudut-sudut jalan, warung takjil mulai membuka lapaknya. Kolak pisang yang manis, bubur sumsum yang lembut, es buah yang segar, semua itu bukan sekadar makanan pembuka puasa. Mereka adalah 'magnet sosial.' Tarikan halus yang membuat orang berhenti, berinteraksi, berbagi cerita sambil memilih takjil untuk dibawa pulang.

Takjil adalah pintu. Pintu menuju perut yang lapar, tentu saja. Tapi juga pintu menuju percakapan singkat dengan penjual, tawa bersama teman yang kebetulan bertemu di pasar, atau sekadar momen kehadiran di tengah keramaian yang menenangkan.

Inilah karakter sosial ngabuburit, cara masyarakat mengisi waktu menunggu berbuka dengan produktivitas sosial dan ekonomi. Bukan sekadar menunggu. Tapi menunggu sambil hidup. Sambil terhubung.

Panggung Budaya Bernama Giri Menang Park

Di Mataram, pemerintah provinsi dan kota tampak memahami bahwa Ramadhan bukan hanya soal ibadah privat. Ia juga soal kebersamaan publik.

Maka lahirlah program, Pesona Ramadhan – Ngantih Bebuke, di Giri Menang Park. Sebuah ruang di mana kuliner buka puasa, atraksi seni budaya, dan silaturahmi publik berpadu sepanjang bulan suci.

Ini bukan sekadar bazar makanan. Ini adalah ruang budaya bersama, tempat di mana masyarakat tidak hanya datang untuk membeli, tapi juga untuk hadir. Untuk melihat. Untuk merasakan bahwa mereka adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri.

Di sinilah takjil melampaui fungsinya sebagai makanan. Ia menjadi alasan untuk berkumpul. Alasan untuk memperkuat sense of belonging komunitas.

Seorang ibu yang datang bersama anak-anaknya bukan hanya mencari kolak untuk berbuka. Ia juga ingin anak-anaknya merasakan keramaian yang khas Ramadhan. Seorang remaja yang ngabuburit sambil bersosialisasi bukan hanya mengisi waktu. Ia sedang belajar tentang tradisi, tentang cara generasi sebelumnya menjalani bulan suci ini.

Ramadhan, dengan demikian, menjadi panggung budaya, di mana nilai-nilai ditransmisikan tanpa harus diucapkan dengan keras.

Ketika Ruang Publik Diatur Ulang

Tapi kegembiraan kolektif ini juga membawa tantangan.

Bagaimana menjaga ketertiban di tengah keramaian? Bagaimana memastikan kenyamanan tanpa mengorbankan kekhusyukan ibadah? Bagaimana menyeimbangkan kepentingan komersial pedagang dengan nilai spiritual yang ingin dijaga?

sumber : Antara

Read Entire Article
Politics | | | |