REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Sekretaris Ketakmiran Masjid Agung Semarang, Muhaimin, mengungkapkan, sejarah tradisi Dugderan yang saat ini rutin diselenggarakan Kota Semarang setiap menjelang Ramadhan telah berakar sejak 1880-an. Dugderan muncul karena adanya perbedaan dalam penetapan awal Ramadhan.
"Dugderan diawali pada tahun 1881. Waktu itu pemerintahan Kabupaten Semarang dipimpin oleh Raden Mas Tumenggung Arya Purboningrat. Lah mengapa terjadi Dugderan itu karena sering terjadi perbedaan penetapan awal Ramadhan," kata Muhaimin saat diwawancara di Masjid Agung Semarang, Senin (16/2/2026).
Dia mengungkapkan, kala itu, Tumenggung Arya Purbodiningrat akhirnya menugaskan seorang utusannya untuk melakukan rukyat di beberapa titik. Menurut Muhaimin, berdasarkan cerita turun temurun, salah satu tempat pengamatan rukyatulhilal-nya adalah di Menara Willem. Kegiatan itu dilaksanakan pada tanggal 29 Sya'ban.
Muhaimin mengatakan, kala itu, Menara Willem, yang lokasinya berada di sekitar wilayah Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, merupakan salah satu bangunan tertinggi. "Sekarang sudah ketutup air. Dulu bangunan tertinggi itu. Di situ paling efektif untuk melihat atau rukyat bulan," ujarnya.
Setelah melakukan rukyatulhilal, utusan-utusan Tumenggung Arya kemudian melaporkannya kepada para kiai yang telah berkumpul di Masjid Agung Semarang. Mereka yang diutus melaksanakan rukyatulhilal pun disumpah sebagai bentuk tanggung jawab atas keterangannya masing-masing.
Jika hilal terlihat, pengumuman awal Ramadhan akan dilakukan dengan menabuh beduk di Masjid Agung, sehingga muncul bunyi "dug". Selain itu, ditembakkan pula meriam di kanjengan atau kantor Bupati kala itu, yang menghasilkan bunyi "der".
"Setelah kelihatan, Bupati datang menyampaikan hasil suhuf halaqah, suhuf itu lembaran, halaqah itu kegiatan kumpul-kumpul sama kiai. Kalau zaman dulu dibunyikan bunyi beduk dan bunyi meriam, supaya orang kumpul," kata Muhaimin.
"Bunyi beduk di masjid 'dug, dug, dug'. Lalu di Kanjengan dibunyikan bunyi meriam 'der, der'. 'Dug, der, dug, der' menjadi Dugderan. Karena ada suara itu, masyarakat kumpul, dibacakanlah suhuf halaqah," tambah Muhaimin.
Usai beduk ditabuh, gunungan berisi delapan ribu kue ganjel rel akan diperebutkan warga. "Ganjel rel filosofinya, kalau kita masuk bulan puasa, hati jangan ganjel, tapi rela, menerima dengan baik," ujar Muhaimin.
Simbol toleransi
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti mengatakan, festival budaya Dugderan tak hanya menjadi tradisi tahunan menyambut Ramadhan. Menurutnya, acara tersebut menegaskan Kota Semarang sebagai kota toleran.
"Tema Dugderan tahun 2026 Masehi adalah 'Bersama dalam Budaya Toleransi dalam Tradisi'. Hal ini menjadi wadah bagi warga Kota Semarang untuk menyampaikan rasa syukur bahwa Semarang telah dikenal sebagai kota toleran. Karena seluruh umat beragama senantiasa berupaya bersatu dan hidup berdampingan," kata Agustina dalam pidatonya saat membuka acara Dugderan di halaman Balai Kota Semarang, Senin (16/2/2026).
Dia menjelaskan, Dugderan, yang telah digelar sejak 1881, mengandung keteladanan dan nilai-nilai luhur, salah satunya toleransi. Agustina mengatakan, berdasarkan sejarah, Kota Semarang memiliki warisan sebagai kota pelabuhan yang sudah terkenal sejak abad ke-15. Menurutnya, Kota Semarang telah menjadi gerbang budaya dan melahirkan keragaman etnis serta budaya pesisir.
Meski memiliki masyarakat dengan latar belakang beragam, Agustina mengatakan, Kota Semarang telah ditetapkan sebagai salah satu kota toleran di Indonesia. Hal itu berdasarkan penilaian beberapa institusi, termasuk Kementerian Agama melalui penghargaan Harmony Award pada 2025.
"Karena seluruh umat senantiasa bersatu dalam kebersamaan yang sehat.
Bersama pemerintah, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), tokoh agama, dan seluruh masyarakat, terus membangun kebersamaan serta membudayakan sikap saling menghormati antarumat beragama dan keyakinan," ucap Agustina.

3 hours ago
4















































