Rencana AS Serang Iran, Khamenei: Mereka Ingin Melahap Iran Beserta Kekayaan Sumber Daya Alamnya

2 days ago 6

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menuduh Amerika Serikat berhasrat "melahap" Iran beserta kekayaan sumber daya alamnya, khususnya minyak dan gas yang melimpah. Dalam pidatonya, Khamenei menggambarkan kerusuhan mematikan akibat protes anti-pemerintah baru-baru ini sebagai "pemberontakan" yang mirip dengan kudeta, serupa dengan istilah yang pernah ia gunakan untuk Gerakan Hijau 2009 dan gelombang protes lainnya.

“Pemberontakan baru-baru ini mirip dengan kudeta. Tentu saja, kudeta tersebut telah dipadamkan,” kata Khamenei. Ia menjelaskan bahwa tujuan para pelaku adalah menghancurkan pusat-pusat penting negara dengan menyerang polisi, kantor pemerintahan, fasilitas Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), bank, serta masjid, bahkan membakar salinan Alquran, sebagaimana diberitakan Aljazeera.

Setelah pidato Khamenei tersebut, Presiden AS Donald Trump menyatakan harapannya agar Iran menyetujui kesepakatan yang ditawarkan. Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dalam wawancara eksklusif dengan CNN pada Ahad menegaskan keyakinannya bahwa kesepakatan dengan Amerika Serikat masih mungkin tercapai, asalkan kedua pihak terlibat dalam pembicaraan nuklir yang adil dan jujur. “Sayangnya, kami telah kehilangan kepercayaan pada AS sebagai mitra negosiasi,” ujar Araghchi, seraya menyinggung penarikan sepihak AS dari kesepakatan nuklir 2015 serta serangan terhadap Iran oleh Israel dan kemudian oleh AS tahun lalu sebagai penyebab utama hilangnya kepercayaan tersebut.

Araghchi menekankan bahwa bentuk negosiasi, langsung atau tidak langsung, bukanlah hal utama, melainkan substansi pembicaraan itu sendiri. Ia menyatakan Iran sepenuhnya setuju dengan seruan Trump agar tidak memiliki senjata nuklir, dan Teheran siap memastikan program nuklirnya tetap damai selamanya, dengan imbalan pencabutan sanksi serta penghormatan terhadap hak Iran untuk melanjutkan pengayaan nuklir demi tujuan damai, sebagaimana diberitakan IRNA.

Menurutnya, jika tim negosiasi AS mengikuti pernyataan Trump, kesepakatan bisa dicapai dalam waktu singkat. Ia juga memperingatkan bahwa beberapa pihak dan negara berusaha menyeret AS ke dalam perang demi kepentingan mereka sendiri, dan menilai Trump cukup bijaksana untuk mengambil keputusan yang tepat.

Mengenai rudal Iran dan dukungan terhadap kelompok perlawanan regional, Araghchi menegaskan agar fokus tetap pada program nuklir saja. “Jangan membicarakan hal-hal yang mustahil,” katanya, seraya meminta agar kesempatan mencapai kesepakatan adil tidak disia-siakan.

Ia menambahkan bahwa Iran tidak khawatir menghadapi perang dan sepenuhnya siap membalas serangan apa pun dengan lebih keras dan tegas daripada respons selama perang 12 hari pada Juni tahun lalu. Araghchi memperingatkan bahwa konflik semacam itu berpotensi meluas ke seluruh kawasan, menjadi bencana bagi semua pihak, karena pangkalan-pangkalan AS di wilayah tersebut akan menjadi sasaran militer Iran yang telah terbukti kekuatan misilnya dalam menghadapi agresi Israel tahun lalu.

Terkait kerusuhan baru-baru ini, Araghchi menyebut adanya "unsur-unsur teroris" yang menerima perintah dari luar negeri untuk melakukan kekerasan dan pertumpahan darah. Ia menggambarkan tiga hari kerusuhan pada 10-12 Januari sebagai kelanjutan dari operasi 12 hari perang yang dipimpin Mossad dari luar, dan menyatakan bahwa Iran telah berhasil menghancurkan operasi tersebut.

Read Entire Article
Politics | | | |