AS Disebut 'Bunuh Diri Politik', Pakar Inggris Ungkap Rahasia Ketangguhan Militer Iran

3 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Dunia kembali menahan napas saat Amerika Serikat dan Israel terus melontarkan ancaman aksi militer baru terhadap Iran. Namun, di balik retorika panas tersebut, bayang-bayang kegagalan perang 12 hari pada Juni 2025 masih menghantui Washington dan Tel Aviv.

Pengalaman perang singkat tersebut telah mengubah peta kekuatan di Asia Barat, membuktikan bahwa Iran bukan sekadar lawan yang bisa ditekan, melainkan raksasa militer yang memiliki daya tahan luar biasa dan kemampuan membalas dengan dampak yang menghancurkan.

Ketegangan ini bermula pada 13 Juni 2025, ketika Israel memicu konflik dengan membunuh ilmuwan nuklir dan pejabat senior militer Iran, serta membombardir wilayah pemukiman di Teheran. Amerika Serikat di bawah Donald Trump kemudian bergabung dengan mengebom tiga fasilitas nuklir utama di Natanz, Isfahan, dan Fordow.

Namun, yang terjadi selanjutnya adalah kejutan besar bagi intelijen Barat: alih-alih lumpuh, Iran justru menunjukkan daya lenting militer yang mengerikan. Dengan cepat, Teheran mengatur ulang pasukannya dan meluncurkan serangan balasan presisi menggunakan rudal dan drone yang menembus jantung pertahanan udara Israel serta pangkalan utama AS di Qatar.

Peneliti Inggris dari Koalisi Stop the War, Steve Bell, menegaskan bahwa serangan balasan Iran tahun lalu telah menghancurkan mitos "kekebalan" Israel. "Kemampuan Iran untuk bangkit dari serangan awal yang tidak beralasan dan menimbulkan kerusakan parah pada instalasi musuh telah memberi AS alasan kuat untuk sangat berhati-hati," ujarnya, sebagaimana diberitakan IRNA.

Bell menekankan bahwa jika pertahanan udara Israel saja bisa ditembus, maka seluruh instalasi militer AS di kawasan itu kini berada dalam posisi yang sangat rentan. Setiap tindakan petualangan militer baru kini dianggap sebagai keputusan berisiko tinggi dengan biaya yang tak terhitung.

Senada dengan itu, mantan anggota parlemen Inggris, Chris Williamson, memperingatkan bahwa Iran bukanlah lawan yang mudah dikalahkan. Pasca-perang Juni 2025, Iran diyakini telah memperkuat sistem pertahanan udara dan meningkatkan akurasi rudal balistik mereka berkali-kali lipat.

Williamson mencatat bahwa meski kapal induk USS Abraham Lincoln telah dikerahkan ke Asia Barat, kapal raksasa tersebut justru menjadi target empuk bagi rudal-rudal Iran. "Kali berikutnya, tanggapan Iran hampir pasti akan jauh lebih menghancurkan," tegasnya.

Daya tahan Iran ini tidak hanya bersumber dari perangkat keras militernya, tetapi juga dari kematangan strategi perang asimetrisnya. Iran telah membuktikan bahwa mereka mampu menyerap pukulan pertama dan membalas dengan serangan yang menyasar titik paling lemah musuh.

Read Entire Article
Politics | | | |