REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Dr Anang Martoyo, Kepala Career Center Cyber University
Bagus menatap layar ponselnya lama. Email yang ia tunggu-tunggu akhirnya masuk. Sayangnya, lagi-lagi bukan undangan kerja, melainkan ucapan terima kasih karena belum lolos seleksi. Padahal IPK-nya 3,78. Lulus tepat waktu. Aktif organisasi. Sertifikat seminar menumpuk. Namun setelah enam bulan mengirim puluhan lamaran, hasilnya tetap sama: penolakan.
Bagus bukan satu-satunya. Setiap tahun, ratusan ribu lulusan perguruan tinggi di Indonesia bernasib serupa. Mereka keluar dari kampus dengan nilai akademik yang membanggakan, tetapi justru tersandung di gerbang dunia kerja.
Di sinilah kenyataan pahit itu muncul: IPK tinggi tidak lagi menjadi jaminan utama untuk mendapatkan pekerjaan. Diruang wawancara, perusahaan kini tidak hanya bertanya “berapa IPK Anda?”, melainkan “bagaimana Anda bekerja dalam tim?”, “bagaimana Anda menyelesaikan konflik?”, atau “apa yang Anda lakukan saat gagal?”.
Pertanyaan-pertanyaan ini sering kali membuat para lulusan gugup. Bukan karena tidak cerdas, tetapi karena belum terbiasa mengasah soft skills, kemampuan berkomunikasi, etika, empati, disiplin, dan daya tahan mental.
Ironisnya, di tengah fenomena inflasi IPK, justru terjadi penurunan kualitas sikap dan karakter. Banyak lulusan cerdas secara akademik, tetapi kurang sopan dalam berkomunikasi, tidak tahan tekanan, mudah menyerah, bahkan enggan belajar dari kritik.
Padahal, bagi perusahaan, keterampilan teknis bisa dilatih, sementara sikap dan karakter jauh lebih sulit dibentuk dalam waktu singkat. Cerita Bagus berubah ketika ia akhirnya mendapat umpan balik jujur dari seorang HRD. “Kamu pintar”, kata pewawancara itu, “tapi caramu menyampaikan pendapat terlalu defensif dan kurang terbuka”.
Sejak saat itu, Bagus mulai berbenah. Ia belajar mendengar, melatih komunikasi, ikut kegiatan sosial, dan membangun etos kerja yang lebih baik. Beberapa bulan kemudian, ia kembali dipanggil wawancara dan kali ini diterima.
Kisah Bagus menjadi cermin bagi banyak lulusan. Di dunia kerja dan dunia usaha yang penuh persaingan, soft skills adalah pembeda utama. IPK mungkin membuka pintu awal, tetapi sikap, karakter, dan kepribadianlah yang menentukan apakah seseorang bisa bertahan dan berkembang. Kampus boleh mencetak lulusan pintar, tetapi masa depan mereka akan ditentukan oleh kemampuan menjadi manusia yang berkarakter.

4 hours ago
4















































