Ramadhan di Era Digital: Menjaga Hati di Tengah Bisingnya Informasi

2 hours ago 6

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Titis Wisnu Wijaya, S.Pd., M.Pd. (Dosen Bahasa Inggris Program Studi Teknologi Informasi, Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta)

Ramadhan selalu identik dengan ketenangan. Namun di era digital, ketenangan itu sering terasa mahal. Notifikasi datang tanpa henti, berita berseliweran, opini saling bertabrakan. Dalam hitungan detik, emosi bisa tersulut hanya karena satu unggahan di layar kecil bernama gawai.

Kita hidup di zaman ketika jempol lebih cepat bergerak daripada hati yang berpikir. Satu komentar bisa melukai, satu kabar yang belum jelas kebenarannya bisa memicu kegaduhan. Tanpa sadar, ruang digital menjadi tempat di mana kesabaran diuji setiap hari.

Di sinilah Ramadhan menemukan maknanya yang sangat relevan. Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim)

Hadits ini terasa begitu kontekstual di era media sosial. 'Berkata' hari ini bukan hanya melalui lisan, tetapi juga melalui tulisan, komentar, unggahan, dan pesan yang kita kirimkan. Setiap kata yang kita ketik adalah cerminan iman dan akhlak kita. Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan diri dari kata-kata yang tidak perlu.

Jika kita mampu menahan sesuatu yang halal demi ketaatan, tentu kita mampu menahan diri dari membagikan informasi yang belum pasti kebenarannya, dari komentar yang menyakitkan, atau dari perdebatan yang tak berujung.

Ramadhan mengajarkan kita untuk memberi jeda. Sebelum membalas, sebelum membagikan, sebelum bereaksi. Jeda itu adalah ruang bagi hati untuk bertanya: Apakah ini baik? Apakah ini perlu? Apakah ini membawa manfaat?

Menjaga hati di tengah bisingnya informasi berarti menjaga niat dan adab. Teknologi adalah alat, tetapi kendali tetap ada pada diri kita. Kita bisa memilih menjadi bagian dari kegaduhan, atau menjadi penenang di tengah keramaian. Kita bisa memperpanjang konflik, atau menyebarkan kesejukan.

Barangkali inilah bentuk 'puasa digital' yang bisa kita latih selama Ramadhan: lebih selektif dalam menerima informasi, lebih santun dalam berkomentar, dan lebih bijak dalam berbagi. Mengurangi reaksi spontan, memperbanyak refleksi. Mengurangi debat, memperbanyak doa, karena pada akhirnya, iman tidak hanya tampak dari ibadah yang kita lakukan secara pribadi, tetapi juga dari bagaimana kita menjaga lisan, termasuk lisan digital di ruang publik.

Semoga Ramadhan ini menjadikan kita pribadi yang tidak hanya sabar dalam menahan lapar, tetapi juga dewasa dalam menjaga kata. Tidak hanya rajin beribadah, tetapi juga bijak dalam bermedia, dan di tengah dunia yang terus berbunyi, semoga hati kita tetap tenang dan terjaga.

Read Entire Article
Politics | | | |