
Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Marhaban, ya Ramadhan. Jutaan ucapan selamat datang bulan suci Ramadhan menyeruak di layar-layar ponsel, di antara grup-grup WhatsApp. Ini beda dari tahun-tahun lalu, saat ucapan selamat Ramadhan semarak lewat spanduk-spanduk yang ditempel di pojok-pojok jalan.
Ramadhan di negeri ini selalu datang seperti tamu agung yang alamatnya jelas, meski jam kedatangannya sering membuat tuan rumah berdebat di depan pagar. Tahun ini, sebagian umat membuka pintu pada Rabu, 18 Februari, sementara sebagian lain memilih Kamis, 19 Februari.
Di Nusantara, menyambut Ramadhan bukan sekadar perkara kalender. Ia festival kultural yang bergerak dari ujung barat hingga timur, dari Banda Aceh sampai Merauke, seolah-olah seluruh kepulauan ini sedang menyalakan lampu serentak untuk menyambut malam panjang yang penuh berkah.
Pawai obor keliling kampung menjadi ritual yang tak lekang oleh listrik PLN. Anak-anak berbaris dengan wajah bercahaya, para orang tua berjalan sambil mengawasi, dan para remaja memanfaatkan momentum untuk menunjukkan bahwa mereka sanggup membawa obor sekaligus menenteng pengeras suara.
Kota-kota besar Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, Makassar, hingga kota-kota kecil yang tidak pernah masuk daftar wisata dunia, mendadak memiliki denyut yang sama: cahaya api kecil yang menari di malam hari, seperti bintang-bintang yang turun ke jalan.
Namun, jika obor memberi cahaya, maka lagu-lagu religi memberi suasana. Ramadhan di Indonesia tidak pernah datang sendirian; ia selalu diiringi soundtrack. Dari radio tua di warung kopi hingga speaker masjid yang kadang terlalu bersemangat, suara lagu religi mengalir seperti udara yang tak terlihat tapi terasa.
Para penyanyi legendaris negeri ini seakan punya kewajiban moral menciptakan lagu Ramadhan: dari qasidah klasik hingga pop religius modern. Lagu-lagu itu menjadi penanda waktu yang lebih kuat dari kalender digital.
Di tengah gemerlap produksi studio dan aransemen orkestra, rakyat tetap memelihara lagu yang paling sederhana. Misalnya, “Ya Ḥannān, Ya Mannān,” yang sering diawali seruan “Shay’un lillāh, yā Ramaḍān” — sesuatu untuk Allah, wahai Ramadhan.
Kalimat pendek ini memuat kedalaman makna yang nyaris filosofis. Dalam tradisi Arab, seruan itu bisa menjadi ajakan bersedekah: berilah sesuatu karena Allah. Dalam konteks Ramadhan Nusantara, ia juga terdengar seperti deklarasi spiritual: wahai bulan suci, inilah persembahan kami untuk Allah.
Maka, ketika anak-anak kampung menyanyikannya dengan suara yang belum stabil, atau ketika rebana dipukul dengan ritme yang kadang lebih cepat dari niat pemainnya, yang terdengar bukan sekadar lagu. Yang terdengar adalah kesadaran kolektif tentang memberi, memohon ampunan, dan pulang kepada Yang Maha Pengasih.
“Ya Ḥannān, Ya Mannān” bukan hanya panggilan kepada sifat Ilahi; ia juga pengingat bahwa manusia adalah makhluk yang selalu butuh maaf dan selalu punya peluang memperbaiki diri.
Menariknya, lagu ini tidak memiliki pengarang tunggal yang bisa dipajang fotonya di sampul album. Ia hidup dalam tradisi lisan, berubah dari satu kampung ke kampung lain, dipendekkan agar cocok dengan ketukan rebana, atau diulang agar cocok dengan semangat peserta pawai. Ia adalah musik rakyat dalam arti paling murni: milik bersama, dinyanyikan bersama, dan diwariskan tanpa kontrak royalti.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

3 hours ago
6















































