
REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Arif Humaini (Dosen Prodi Pendidikan Bahasa Arab Universitas Muhammadiyah Yogyakarta)
Pola keseimbangan dalam kehidupan merupakan prinsip penting yang mengajarkan manusia untuk tidak berlebihan dalam satu sisi dan mengabaikan sisi lainnya. Sederhananya, seimbang berarti mampu menempatkan dua hal secara proporsional—tidak condong secara ekstrem, tetapi menghadirkan harmoni di antara keduanya.
Konsep keseimbangan tidak dapat berdiri sendiri, karena selalu membutuhkan pembanding atau pasangan. Dalam ajaran Islam, prinsip ini ditegaskan dalam Alquran Surat Az-Zariyat ayat 49, bahwa Allah SWT menciptakan segala sesuatu secara berpasang-pasangan.
Makna 'berpasangan' memiliki cakupan yang luas. Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa Allah menciptakan langit dan bumi, siang dan malam, terang dan gelap, iman dan kufur, hidup dan mati—semuanya hadir sebagai pasangan yang saling melengkapi sekaligus menjadi pengingat bagi manusia.
Begitu pula dalam kehidupan sehari-hari, ada kebahagiaan dan kesedihan, kesehatan dan sakit, kemudahan dan kesulitan. Setiap hal memiliki lawannya, dan dari sanalah manusia belajar memahami makna kehidupan secara utuh.
Penciptaan yang berlawanan ini bukan tanpa tujuan. Allah SWT menghadirkan berbagai kondisi agar manusia mampu mengambil pelajaran dan hikmah. Sesuatu yang tampak kurang menyenangkan belum tentu tidak memiliki manfaat. Sebaliknya, sesuatu yang dianggap baik pun dapat membawa dampak kurang baik apabila disikapi secara berlebihan. Karena itu, keseimbangan menjadi kunci agar manusia tidak terjebak dalam ekstremitas.
Dalam ajaran Islam, prinsip keseimbangan tercermin dalam berbagai tuntunan, salah satunya melalui ibadah puasa di bulan Ramadhan. Puasa bukan hanya ibadah spiritual untuk meraih pahala, tetapi juga sarana membentuk keseimbangan antara kebutuhan jasmani dan rohani. Saat berpuasa, manusia belajar menahan diri, mengendalikan hawa nafsu, serta merasakan lapar dan dahaga yang mungkin setiap hari dirasakan oleh mereka yang kurang beruntung.
Dari pengalaman tersebut tumbuh empati, kasih sayang, dan kepedulian sosial. Nilai-nilai ini tidak selalu muncul secara otomatis, melainkan perlu dilatih secara konsisten. Puasa menjadi bentuk latihan spiritual sekaligus sosial yang membiasakan manusia untuk lebih peka terhadap sesama. Dengan demikian, manfaat puasa tidak hanya bersifat non-fisik berupa pahala, tetapi juga berdampak pada kesehatan fisik, pengendalian diri, serta penguatan karakter.
Semoga Ramadhan ini tidak hanya dimaknai sebagai kewajiban tahunan, tetapi sebagai momentum memperbaiki pola hidup dan menghadirkan keseimbangan dalam berbagai aspek kehidupan. Dengan keseimbangan, manusia dapat menjalani hidup secara lebih bijaksana, harmonis, dan penuh makna, tidak hanya di bulan Ramadhan, tetapi juga pada bulan-bulan setelahnya.

3 hours ago
7















































