PKM Pendanaan DPPM Kemendikti Saintek: Hemat Energi dengan Briket Limbah Ubi Kayu dan Kelola Keuangan UMKM Opak Deli Serdang

2 hours ago 6

Image Suryani Sajar

Iptek | 2026-08-15 04:57:59

Gambar 1. Tim pengabdian dengan pelaku industri pengolahan ubi kayu di lokasi pengabdian Desa Tuntungan 1 Kecamatan Pancur Batu Kabupaten Deli Serdang (sumber langsung)

Siapa yang tak suka renyahnya keripik opak? Camilan gurih khas ubi kayu ini ternyata punya "dapur utama" tersendiri di Sumatera Utara, tepatnya di Desa Tuntungan I, Kecamatan Pancur Batu, Kabupaten Deli Serdang. Berada di kawasan dataran rendah yang subur, Desa Tuntungan I dikenal sebagai sentra penghasil ubi kayu. Menariknya, warga tak cuma menjual ubi mentah, tetapi juga menyulapnya menjadi opak. Usaha olahan rumahan ini sukses menjadi tulang punggung ekonomi desa karena mampu menyerap tenaga kerja lokal, menopang pendapatan keluarga melalui sektor UMKM, serta mengoptimalkan potensi lokal dengan mengubah hasil tani biasa menjadi produk olahan bernilai jual tinggi.

Geliat industri pengolahan ubi kayu menjadi opak di Desa Tuntungan I memang menjadi penggerak utama roda ekonomi warga. Sebagai gambaran, usaha skala menengah seperti UD. Sun Jaya Mandiri saja membutuhkan bahan baku ubi kayu segar hingga 6 ton per hari . Namun, di balik skala produksi yang besar ini, muncul tantangan ekologis dan pengelolaan limbah yang cukup serius.

Selama proses pembuatan opak, limbah cair seperti tepung aci terbuang ke saluran air hingga memicu pencemaran parit di sekitar pabrik. Tak hanya itu, tumpukan limbah padat berupa kulit ubi kayu sebagian besar dibiarkan menumpuk hingga membusuk dan menimbulkan bau tidak sedap. Kondisi ini terjadi karena mitra belum memiliki pengetahuan memadai mengenai potensi pengolahan limbah pertanian menjadi produk bernilai guna.

Gambar Kulit ubi kayu setelah proses pengupasan ubi kayu dan tepung aci dari pencucian ubi (sumber langsung)

Tantangan tak berhenti pada masalah sampah olahan. Pada proses perebusan ubi kayu, produsen masih menggantungkan sumber energi utamanya pada kayu bakar. Ketergantungan pada kayu bakar ini tidak hanya meningkatkan biaya produksi, tetapi juga berdampak langsung pada kelestarian alam akibat aktivitas penebangan pohon yang memicu hilangnya tutupan lahan, penurunan daya serap karbon, serta ancaman perubahan iklim.

Melihat berbagai tantangan lingkungan dan efisiensi produksi yang dihadapi para pengrajin opak di Desa Tuntungan I, tim dosen pengabdian masyarakat dari Universitas Pembangunan Panca Budi turun tangan membawa angin segar. Tim yang diketuai oleh Ir. Suryani Sajar, M.P. bersama anggota Hidayati Lubis, S.P., M.Si. dan Andi Setiawan, S.P., M.P., juga melibatkan mahasiswa menggelar program pengabdian masyarakat secara intensif sejak Mei hingga Agustus 2026.

Kegiatan bernilai strategis ini berhasil terlaksana berkat dukungan dana hibah dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui skema pendanaan tahun 2026. Mengusung tema “Inovasi Briket Limbah Pengolahan Ubi Kayu Sebagai Energi Alternatif dan Penguatan Manajemen Keuangan Industri Opak di Desa Tuntungan 1 Kecamatan Pancur Batu”. Program ini diikuti secara oleh 40 orang peserta yang terdiri dari para pelaku usaha rumah tangga pengolahan keripik dan opak.

Gambar 3. Pemaparan materi merubah limbah ubi kayu menjadi briket energi alternatif ramah lingkungan

Pelatihan dibuka langsung oleh Ir. Suryani Sajar, M.P. melalui pemaparan materi yang interaktif mengenai potensi luar biasa di balik limbah ubi kayu. Dalam sesi ini, para peserta diajak mengubah cara pandang mereka terhadap kulit dan aci limbah pengolahan opak yang selama ini dianggap sebagai sampah. Melalui sentuhan teknologi tepat guna pirolisis yaitu proses pembakaran biomassa pada kondisi minim oksigen limbah ubi kayu disulap menjadi arang berkualitas tinggi. Arang tersebut kemudian dipadatkan, baik secara manual maupun menggunakan mesin pencetak, hingga menghasilkan briket bioenergi yang siap pakai.

Suryani Sajar memaparkan bahwa briket limbah ubi kayu jauh lebih unggul dibandingkan kayu bakar konvensional karena proses pembuatannya ramah lingkungan melalui metode pirolisis wadah tertutup yang minim emisi asap. Selain itu, teknologi ini sangat murah dan terjangkau sebab dapat memanfaatkan drum bekas, di samping ketersediaan bahan baku yang melimpah gratis di Desa Tuntungan I. Lewat inovasi sederhana namun berdampak besar ini, para pengrajin opak tidak hanya berpeluang memangkas biaya operasional perebusan ubi, tetapi juga menjadi pelopor industri rumah tangga yang bersih dan berwawasan lingkungan Melalui transfer iptek pengolahan limbah ubi kayu menjadi briket ini, tumbuh kesadaran mandiri warga untuk mengelola limbah secara bijak dan ramah lingkungan, hingga akhirnya menjadi budaya baru bagi masyarakat Desa Tuntungan I.

Gambar 4. Demonstrasi dan praktek membuat briket (sumber langsung)

Tak berhenti pada teori, para peserta pelatihan langsung diajak terjun ke lapangan untuk mempraktikkan proses pembakaran limbah ubi kayu menjadi arang menggunakan metode drum kontiki. Dalam sesi praktik ini, peserta diberi kesempatan untuk mencoba dan membuat briket bioenergi secara mandiri.Suasana pelatihan pun berlangsung seru dan interaktif. Bagi para pengrajin opak di Desa Tuntungan I, materi serta pengalaman langsung mengolah sampah ubi menjadi bahan bakar ramah lingkungan ini merupakan hal yang benar-benar baru, menarik, dan membuka wawasan mereka.

Keterbatasan daya jangkau pasar menjadi salah satu tembok besar yang menghambat perkembangan para pengrajin opak di Desa Tuntungan I. Sebagian besar pelaku UKM masih mengandalkan cara berjualan konvensional dari mulut ke mulut, meski pemanfaatan teknologi digital sebenarnya sudah mulai dirintis. Pelanggan tetap berasal dari Sumatera Barat, Riau, dan Jawa Barat. Kami belum mampu menembus pasar yang lebih luas. Jika permintaan rendah, opak menumpuk di gudang sehingga produksi harus berhenti dulu sampai produk laku," ungkap Suhendra (50), salah satu pelaku UMKM setempat.

Kondisi tersebut makin diperberat oleh lemahnya tata kelola finansial di tingkat produsen. Sebagian besar mitra usaha belum menerapkan sistem pencatatan keuangan yang terstruktur dan sistematis, di mana modal bisnis masih sering tercampur dengan uang kebutuhan rumah tangga. Tanpa pembukuan usaha yang rapi, para pengusaha tidak hanya kesulitan memantau arus kas dan menghitung biaya produksi secara akurat, tetapi juga terhambat untuk mengevaluasi keuntungan nyata guna mengembangkan bisnis mereka ke tingkat yang lebih tinggi.

Dosen Unpab Hidayati Purnama Lubis S.P.M.Si hadir sebagai narasumber dengan materi " Pemisahan Keuangan Pribadi dan Keuangan Usaha” Penerapan disiplin dalam pemisahan keuangan pribadi dan keuangan usaha merupakan fondasi vital bagi para pengrajin opak di Desa Tuntungan I agar bisnis rumahan ini bisa naik kelas. Selama ini, kebiasaan mencampur modal pembelian ubi kayu atau kayu bakar dengan uang belanja dapur sehari-hari kerap menyulitkan pemilik pabrik dalam menghitung margin keuntungan bersih yang sebenarnya. Dengan memisahkan kedua kantong keuangan tersebut secara tegas, pelaku UMKM pengolahan opak dapat lebih mudah memantau arus kas, mengontrol biaya operasional bulanan, menjaga agar modal kerja tidak tergerus untuk kebutuhan konsumtif, serta membuka peluang akses permodalan yang lebih luas dari lembaga keuangan secara profesional.

Pemisahan keuangan pribadi dan keuangan usaha menjadi kunci utama bagi keberlanjutan industri opak agar tidak terjebak dalam siklus "omzet besar tapi modal habis". Ketika uang hasil penjualan opak terpisah secara sistematis dari dompet rumah tangga, para pemilik pabrik dapat memproyeksikan alokasi dana secara presisi—mulai dari dana darurat saat permintaan pasar sedang sepi, anggaran pembelian bahan baku ubi kayu, hingga investasi pengembangan teknologi pemesinan. Langkah ini tidak hanya menyelamatkan usaha dari risiko kebangkrutan, tetapi juga melatih disiplin finansial pengusaha lokal menuju tata kelola bisnis yang modern dan mandiri.

Gambar 5 Pelatihan manajemen keuangan oleh Hidayati Purnama Lubis
Gambar 6. Sesi diskusi dan tanya jawab peserta pelatihan

Suryadi (40), pelaku UKM mengatakan, "Sebelumnya kami tidak pernah memisahkan antara uang pribadi dan uang usaha, sehingga kami selalu kesulitan mengetahui berapa keuntungan bersih yang sebenarnya didapat setiap bulannya, karena uang hasil penjualan opak sering habis terpakai untuk kebutuhan rumah tangga. Modal untuk membeli ubi kayu dan operasional pabrik sering kali tergerus tanpa disadari. Namun setelah mendapat pelatihan ini, kami makin paham pentingnya bikin pembukuan rapi agar usaha opak kami bisa lebih berkembang dan teratur."

Ketua Tim PKM menyatakan bahwa melalui kegiatan pengabdia ini, UNPAB meneguhkan komitmen untuk menghadirkan pembelajaran yang aplikatif dan memperkuat peran perguruan tinggi dalam pemberdayaan masyarakat," ujar Pihak kampus ingin memastikan inovasi iptek dapat dirasakan langsung dampaknya oleh masyarakat. "Dengan dukungan Kemendikbudristek, pengabdian ini menjadi jembatan strategis yang menghubungkan dunia akademisi dengan para pelaku usaha kecil di daerah," tuturnya.

Keberhasilan program ini tak lepas dari antusiasme para mitra yang terlibat aktif mempraktikkan setiap tahapan pelatihan secara langsung. Momentum ini juga memberikan pengalaman berharga bagi mahasiswa UNPAB yang turut mendampingi. Selain memperluas wawasan melalui pembelajaran praktis di lapangan, mereka merasakan kepuasan tersendiri karena dapat berkontribusi nyata dalam memberdayakan masyarakat.

Gambar 7 Tim pengabdian dan pelaku UMKM opak di lokasi pengabdian Desa Tuntungan 1 Kecamatan Pancur Batu Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Politics | | | |