Perkuat Pengembangan Kebudayaan, Goethe-Institut Gandeng 6 Kampus di Bandung

2 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG - Goethe-Institut Bandung membangun kerja sama dengan enam perguruan tinggi di Kota Bandung, belum lama ini. Kerja sama tersebut, ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman dan Nota Kesepakatan (MoU). Kerja sama multiyears ini fokus pada pengembangan proyek kebudayaan, khususnya perfilman, seni dan pertukaran gagasan lintas negara.

Enam kampus yang menjalin kerja sama tersebut adalah Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Telkom University, Universitas ‘Aisyiyah Bandung, Universitas Padjadjaran (Unpad), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), dan Universitas Widyatama.

Menurut Direktur Goethe-Institut untuk kawasan Asia Tenggara, Australia, dan Selandia Baru, Constanze Michel, tahun ini pihaknya memberi perhatian khusus pada proyek film. Salah satunya, melalui inisiatif serial yang mempertemukan sudut pandang Indonesia dan Jerman.

Constanze mengatakan, minat terhadap karya audiovisual Indonesia di Jerman terus meningkat. Karena itu, Goethe-Institut berupaya menghadirkan pertukaran dua arah: membawa perspektif Jerman ke Indonesia sekaligus membuka jalan bagi sineas Indonesia untuk dikenal di Jerman.

“Kami ingin mahasiswa di Indonesia mengenal cara pandang Jerman. Di saat yang sama, kami juga melihat ketertarikan besar di Jerman terhadap serial dan cerita dari Indonesia. Ini tentang saling terhubung dan berbagi perspektif,” ujar Michel.

Penguatan Pembelajaran Bahasa Jerman

Selain pengembangan film, kata dia, kemitraan juga mencakup penguatan pembelajaran bahasa Jerman, program akademik bersama, hingga penerjemahan karya sastra. Unpad, misalnya, akan terlibat dalam proyek penerjemahan literatur anak dan remaja dari bahasa Jerman ke bahasa Indonesia.

Penandatanganan MoU/MoA ini dilakukan oleh Constanze Michel bersama pimpinan masing-masing perguruan tinggi, di antaranya Rektor Unpar Tri Basuki Joewono, Rektor UPI Didi Sukyadi, Rektor Universitas Widyatama Dadang Suganda, Rektor Universitas ‘Aisyiyah Sitti Syabariyah, Dekan FIB Unpad Aquarini Priyatna, serta Dekan Fakultas Industri Kreatif Telkom University Dandi Yunidar.

Menurut Rektor Unpar Tri Basuki Joewono, kolaborasi ini telah dimulai melalui berbagai kegiatan diskusi, pameran, hingga forum seni yang difasilitasi Goethe-Institut dalam beberapa tahun terakhir. Penandatanganan kesepakatan kali ini menjadi langkah formal untuk memperluas cakupan dan kesinambungan program.

“Goethe-Institut punya banyak peluang dan jejaring, sementara perguruan tinggi memiliki kapasitas akademik dan sumber daya. Keduanya bisa dikolaborasikan. Hari ini itu diformalkan sebagai penanda untuk menyiapkan langkah yang lebih jauh ke depan,” kata Tri.

Tahap awal kerja sama akan berfokus pada pengembangan proyek-proyek bersama, seperti diskusi film, produksi karya kolaboratif, hingga pengembangan animasi berbasis budaya seperti Anime wayang. Selain itu, Unpar misalnya, akan terlibat melalui Program Studi Integrated Arts yang memiliki kekuatan pada penciptaan karya performatif.

Peluang student mobility maupun faculty mobility pun, terbuka untuk dikembangkan pada tahap berikutnya sebagai luaran lanjutan dari kemitraan tersebut.

Tri menambahkan, dibandingkan tahun sebelumnya, cakupan kerja sama tahun ini akan jauh lebih luas karena melibatkan lebih banyak perguruan tinggi serta ragam aktivitas yang semakin kaya. “Kalau sebelumnya lebih banyak diskusi, sekarang akan bergerak ke produksi dan kolaborasi karya. Jadi skalanya meningkat,” katanya.

Kelanjutan Proyek Film

Dalam waktu dekat, agenda yang segera berjalan adalah kelanjutan proyek film yang telah dirintis tahun lalu. Selain itu, sejumlah kampus juga menyiapkan pertunjukan seni yang akan menjadi bagian dari program bersama.

Secara substantif, kata Tri, kerja sama ini bertujuan menjadikan budaya sebagai medium untuk membangun dialog kemanusiaan dan masa depan yang berkelanjutan. “Kalau kita bicara isu dunia, pengenalannya sering kali dimulai dari budaya. Dari wayang, dari film, dari seni, orang belajar memahami perspektif lain. Dari sana lahir kolaborasi untuk membangun dunia yang lebih baik,” katanya.

Forum bertajuk Growing Cultural Futures Together itu juga diisi diskusi panel mengenai peran universitas dan lembaga kebudayaan dalam menjawab tantangan global melalui kolaborasi internasional.

Read Entire Article
Politics | | | |