REPUBLIKA.CO.ID,LOMBOK BARAT — Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) meresmikan 41 Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) NU yang berpusat di Pondok Pesantren Darul Qur’an Bengkel, Labuapi, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, Sabtu (21/2/2026). Peresmian ini menjadi langkah keempat dalam rangkaian peluncuran SPPG oleh TKA-PBNU setelah sebelumnya digelar di Cirebon, Jember, dan Batang.
Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) mengatakan, kerja sama dengan Badan Gizi Nasional (BGN) telah dimulai sejak peringatan Harlah ke-102 NU pada awal Februari lalu. PBNU menargetkan pembangunan 1.000 titik SPPG di seluruh Indonesia sebagai bentuk komitmen mendukung program strategis Presiden.
“Data menunjukkan banyak santri kita yang kenyang secara kuantitas namun masih mengalami masalah kesehatan seperti anemia karena gizi yang tidak seimbang. Program ini hadir untuk memperbaiki kualitas sumber daya manusia pesantren agar lahir generasi yang berkualitas dan berdaya saing,” ujar Gus Yahya dalam siaran persnya, Ahad (22/2/2026).
Tuan rumah kegiatan sekaligus Ketua Tanfidziyah PWNU NTB, Prof Masnun Tahir menjelaskan, program ini merupakan keberlanjutan dari marwah perjuangan Datuk Bengkel, Rais Syuriah pertama PWNU NTB. Ia menegaskan, sinergi dengan pemerintah merupakan komitmen yang tidak terpisahkan dari NU."Program MBG ini bentuk nyata kehadiran negara di tengah masyarakat yang selaras dengan visi besar PBNU," ucap Masnun.
Sementara itu, Ketua RMI PBNU KH Hodri Ariev menekankan pentingnya pembentukan forum pengelola dapur di bawah fasilitasi TKA-PBNU. "Upaya ini dilakukan untuk memastikan standarisasi dan keberlanjutan program di berbagai provinsi, demi tercapainya kemandirian pangan bagi warga Nahdliyyin dan bangsa Indonesia secara luas," kata Kiai Hodri.
Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, dalam sambutan penutupnya menyoroti dampak ekonomi mikro dari kehadiran dapur-dapur pesantren. Menurut dia, model ini membalik paradigma pembangunan dari hilir ke hulu karena menyerap bahan pangan langsung dari petani, peternak, dan pelaku UMKM lokal sehingga menciptakan jaminan pasar yang stabil.
"Pesantren akan menjadi basis baru kekuatan ekonomi umat. Dimulai dari SPPG, kita berharap ini merambah ke kemandirian peternakan dan pertanian di lingkungan pesantren. Jika ini terjadi, kekuatan ekonomi rakyat akan tercipta secara masif," jelas Iqbal.

3 hours ago
5












































