Krakatau Osaka Steel.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Industri baja nasional kembali kehilangan pemainnya setelah satu perusahaan menghentikan operasional akibat tekanan baja impor murah. Persaingan harga yang tidak seimbang membuat produsen domestik semakin sulit bertahan di tengah kelebihan pasokan global.
PT Krakatau Osaka Steel (KOS) resmi menghentikan produksi pada akhir April 2026 dan akan menutup seluruh kegiatan usaha pada Juni 2026 setelah kinerja bisnis terus tertekan dalam beberapa tahun terakhir. Tekanan industri terjadi ketika pasar baja konstruksi domestik melemah, sementara produk impor berharga lebih murah semakin mendominasi pasar.
Produsen baja global memiliki keunggulan skala produksi dan efisiensi biaya sehingga mampu menawarkan harga jauh lebih kompetitif dibandingkan produsen dalam negeri. Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira Adhinegara menilai penutupan KOS mencerminkan persoalan struktural industri baja nasional.
“Krakatau Osaka Steel (KOS) sebetulnya korban kedua. Sebelumnya, Oktober 2025, pabrik Metal Steel Group milik Ispat Indo yang beroperasi di Surabaya juga tutup,” kata Bhima, Rabu (6/5/2026).
Menurut Bhima, banjir impor baja murah dari China membuat persaingan harga menjadi tidak seimbang. Utilisasi kapasitas industri baja nasional saat ini hanya sekitar 52 persen, jauh dari level ideal sekitar 80 persen.
“Produksi baja China dalam setahun sekitar 1 miliar ton. Bayangkan, 2 persen saja diekspor ke Indonesia, jumlahnya sudah melampaui kapasitas produksi Indonesia. Nah, ini kan persaingan yang tidak fair mengingat harga baja China yang lebih murah,” ujar Bhima.
Ia mendorong pemerintah mempercepat kebijakan antidumping dari hulu hingga hilir. Temuan Komite Anti Dumping Indonesia mengenai praktik dumping baja China dengan selisih harga 5,9 persen hingga 55,6 persen lebih murah dinilai menjadi dasar penguatan perlindungan industri domestik.
sumber : Antara

3 hours ago
5















































