REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebuah firman Allah menjelaskan ibrah kehidupan yang menyentuh hati.
اِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْۖ وَاِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَّفْرَحُوْا بِهَا ۗ وَاِنْ تَصْبِرُوْا وَتَتَّقُوْا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْـًٔا ۗ اِنَّ اللّٰهَ بِمَا يَعْمَلُوْنَ مُحِيْطٌ ࣖ
In tamsaskum ḥasanatun tasu'hum, wa in tuṣibkum sayyi'atuy yafraḥū bihā, wa in taṣbirū wa tattaqū lā yaḍurrukum kaiduhum syai'ā(n), innallāha bimā ya‘malūna muḥīṭ(un).
"Jika kamu memperoleh kebaikan, (niscaya) mereka bersedih hati. Adapun jika kamu tertimpa bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, tidaklah tipu daya mereka akan menyusahkan kamu sedikit pun. Sesungguhnya Allah Maha Meliputi segala yang mereka kerjakan." (QS Ali Imran: 120)
Ada luka yang tidak datang dari musuh yang menghunus pedang. Ia datang dari senyum yang dipaksakan, dari ucapan selamat yang diucapkan dengan bibir, tetapi ditolak oleh hati. Ada manusia yang tidak tahan melihat cahaya pada diri orang lain. Ketika engkau berhasil, mereka merasa kehilangan. Ketika engkau terjatuh, mereka merasa memperoleh kemenangan.
Alquran berbicara tentang watak manusia semacam ini dengan kejujuran yang nyaris menyakitkan. "Jika kamu memperoleh kebaikan, mereka bersedih hati."
Menurut Imam al-Tabari, yang dimaksud hasanah dalam ayat ini mencakup segala bentuk kebaikan yang Allah berikan kepada kaum mukminin: kemenangan, kemuliaan, rezeki, persatuan, maupun keberhasilan. Kebaikan itu tidak melukai tubuh mereka, tetapi melukai sesuatu yang lebih dalam: kedengkian yang bersemayam di dada.
Betapa sering kita menjumpai fenomena ini dalam kehidupan. Ketika seseorang mendapatkan amanah yang lebih tinggi, ada yang tidak mampu ikut berbahagia. Ketika seorang sahabat berhasil membangun usaha, ada yang diam-diam berharap ia gagal. Ketika seorang tetangga memperoleh rezeki, ada yang menghitung nikmat orang lain lebih teliti daripada menghitung karunia yang Allah limpahkan kepada dirinya sendiri.
Hasad selalu memiliki sifat yang aneh. Ia tidak ingin dirinya bertambah tinggi. Ia hanya ingin orang lain menjadi lebih rendah.
Karena itu Allah melanjutkan: "Dan jika kamu tertimpa bencana, mereka bergembira karenanya."
Ibn Katsir menjelaskan bahwa kegembiraan itu lahir bukan karena mereka memperoleh manfaat apa pun, melainkan karena melihat orang beriman kehilangan sesuatu. Mereka merasa senang bukan atas keberhasilan diri sendiri, tetapi atas penderitaan orang lain.
Inilah salah satu penyakit hati yang paling tua dalam sejarah manusia. Qabil tidak membunuh Habil karena kekurangan harta. Saudara-saudara Nabi Yusuf tidak membuangnya ke sumur karena kemiskinan. Mereka digerakkan oleh rasa tidak rela melihat seseorang memperoleh cinta, kemuliaan, atau keutamaan yang tidak mereka miliki.

7 hours ago
12

















































