REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Harga timah dunia mencatat penguatan signifikan sepanjang kuartal I-2026. Kenaikan harga tersebut menjadi katalis bagi kinerja industri timah nasional sekaligus membuka ruang lebih besar untuk mempercepat program hilirisasi.
Harga rata-rata logam timah Cash Settlement Price (CSP) di London Metal Exchange (LME) pada periode tersebut tercatat sebesar 48.679,68 dolar AS per metrik ton, melonjak 34,7 persen dibandingkan kuartal I-2025 yang berada di level 36.134,37 dolar AS per metrik ton.
Dari sisi permintaan, struktur konsumsi timah global menunjukkan tren positif. Sekitar 50 persen konsumsi ditopang oleh segmen solder yang erat kaitannya dengan industri semikonduktor dan elektronik. Prospek segmen ini dinilai tetap kuat seiring percepatan adopsi kecerdasan buatan (AI), ekspansi pusat data, pengembangan teknologi penyimpanan energi, serta peningkatan investasi pada infrastruktur kelistrikan.
Kondisi tersebut menjadi peluang strategis bagi Indonesia untuk memperkuat industri timah nasional melalui pengembangan sektor hilir dan peningkatan nilai tambah di dalam negeri.
Berdasarkan CRU Tin Monitor, produksi logam timah global pada kuartal I-2026 mencapai 90.645 ton, sementara konsumsi diperkirakan sebesar 89.036 ton. Kondisi tersebut menunjukkan keseimbangan pasar yang relatif solid.
Sejalan dengan perkembangan pasar global, PT Timah Tbk (TINS), anggota Holding Industri Pertambangan MIND ID, mencatat kinerja yang signifikan. Perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp5,47 triliun, tumbuh 160,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp2,10 triliun.
Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai peningkatan kinerja tersebut didorong oleh membaiknya kondisi industri timah global.
"Kinerja timah terdorong kenaikan harga timah dunia, membaiknya ekspor, peningkatan produksi, serta efisiensi operasional dan penurunan beberapa beban biaya," ujarnya.
Dari sisi operasional, hingga kuartal I-2026 TINS membukukan produksi bijih timah sebesar 6.312 ton Sn, meningkat 96 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 3.225 ton Sn.
Produksi logam timah juga naik 82 persen menjadi 5.630 metrik ton Sn dari sebelumnya 3.095 metrik ton Sn. Penjualan logam timah melonjak 113 persen menjadi 6.009 metrik ton dari 2.824 ton pada kuartal I-2025.
Perseroan turut menikmati kenaikan harga jual rata-rata logam timah menjadi 49.221dolar AS per metrik ton, naik 51 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 32.495 dolar AS per metrik ton.
Dari sisi pasar, penjualan masih didominasi ekspor dengan kontribusi mencapai 97 persen. China menjadi tujuan utama dengan porsi 48 persen dari total ekspor.
Di tengah kinerja yang menguat tersebut, MIND ID terus mendorong transformasi industri timah nasional melalui penguatan hilirisasi. Timah tidak lagi diposisikan semata sebagai komoditas primer, tetapi sebagai bagian dari ekosistem industri bernilai tambah tinggi.
Pengembangan produk turunan seperti solder, tin chemical, hingga material pendukung industri elektronik menjadi fokus untuk memperluas peran Indonesia dalam rantai pasok global. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah domestik sekaligus memperkuat daya saing industri nasional.
MIND ID saat ini merupakan pemegang saham pengendali TINS dengan kepemilikan sebesar 65 persen, sementara publik memegang sekitar 34,9 persen. Posisi tersebut menempatkan MIND ID sebagai konsolidator industri timah nasional yang mengintegrasikan pengelolaan sumber daya dari hulu hingga hilir guna memperkuat daya saing Indonesia di pasar global.

7 hours ago
10

















































