Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berbicara saat konferensi pers di kantor Perdana Menteri di Yerusalem, Ahad, 10 Agustus 2025.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memperingatkan parlemen terkait meningkatnya kekuatan militer Mesir. Peringatan tersebut disampaikan dalam sidang tertutup Komite Urusan Luar Negeri dan Pertahanan Knesset.
Dilansir dari Palestine Chronicle yang mengutip media Israel, Netanyahu mengatakan,
“Kekuatan militer Mesir terus bertambah dan kita harus memantau perkembangan ini. Kita memiliki hubungan dengan Mesir, tetapi kita harus mencegah peningkatan kekuatan yang berlebihan.”
Pernyataan tersebut muncul di tengah penguatan kerja sama antara Mesir dan Turki, menyusul pertemuan tingkat tinggi Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan. Kedua negara sepakat memperluas kerja sama ekonomi, perdagangan, dan koordinasi strategis, serta menargetkan nilai perdagangan bilateral mencapai 15 miliar dolar AS pada 2028.
Brigadir Jenderal Purn Israel Amir Avivi juga memperingatkan bahwa Israel harus bersiap menghadapi kemungkinan konfrontasi yang melibatkan kedua negara tersebut. Ia menilai Israel perlu membangun kekuatan militer yang mampu berperang “di dua front melawan dua angkatan bersenjata reguler secara bersamaan.”
Dalam wacana keamanan Israel, aliansi regional semakin dipandang sebagai faktor penting dalam perencanaan militer jangka panjang, tidak semata-mata terbatas pada konflik di Gaza.
Dilansir dari defenseofarabia, Mesir menempati posisi teratas sebagai negara dengan kekuatan militer terbesar di dunia Arab dan berada di peringkat ke-19 secara global. Kekuatan tersebut dihasilkan meski Mesir hanya menempati urutan kedelapan di dunia Arab dan peringkat ke-46 dunia dalam hal belanja pertahanan. Sebagai perbandingan, anggaran pertahanan Arab Saudi berada di peringkat kelima terbesar di dunia.
Berdasarkan data tahun 2025 dari situs Global Firepower yang berbasis di Amerika Serikat, hanya tiga negara—Arab Saudi, Aljazair, dan Maroko—yang menyumbang porsi terbesar dari total belanja militer negara-negara Arab. Sementara itu, enam negara Arab lainnya masing-masing mengalokasikan anggaran pertahanan kurang dari 1 miliar dolar AS per tahun.

2 hours ago
3













































