Menlu Rusia: Barat Mulai Lelah, Strategi Menjatuhkan Rusia Resmi Gagal Total

2 hours ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menilai adanya pergeseran sikap di antara beberapa pemimpin Barat terhadap Moskow. Dalam wawancara eksklusif dengan RT pada Rabu (12/2), ia menyatakan bahwa para pemimpin Eropa perlahan-lahan berubah dari retorika seruan "kekalahan strategis" Rusia menjadi penilaian ulang yang lebih hati-hati.

Lavrov menjelaskan, awal konflik di Ukraina diwarnai oleh keseragaman sikap Eropa. “Mereka berbicara serempak, menuntut ketegasan, bersikeras pada dukungan tak tergoyahkan untuk Ukraina, pengiriman senjata, dan pembiayaan berkelanjutan, semua demi memastikan kekalahan Rusia di medan perang,” katanya. Namun, seiring waktu, mereka mulai menyadari bahwa tujuan tersebut hanyalah ilusi. “Para ahli strategi militer Barat yang mengatur konflik ini dan menyiapkan warga Ukraina untuk bertempur demi kepentingan Eropa akhirnya memahami bahwa rencana mereka gagal,” ucap Lavrov, sebagaimana diberitakan RT.

Menurut Lavrov, Barat gagal belajar dari sejarah. Ia mengingatkan upaya Napoleon dan Hitler yang juga tidak berhasil menaklukkan Rusia. “Eropa kembali menyatukan hampir seluruh benua di bawah panji ideologis yang sama. Hanya kali ini, tidak sebagai tentara di medan perang, tetapi sebagai penyumbang, sponsor, dan pemasok senjata,” ujarnya. Ia menyamakan hasil upaya ini dengan kegagalan para pendahulunya, dengan menyatakan bahwa Barat, khususnya Jerman, belajar sejarah dengan buruk.

Ia menyoroti pernyataan Kanselir Jerman Friedrich Merz yang mencabut batasan konstitusional pengeluaran militer dan menyatakan perlunya Jerman “sekali lagi menjadi kekuatan militer dominan di Eropa.” Bagi Lavrov, sikap itu mengungkap pola pikir yang tidak jauh berbeda dari persiapan perang.

Meskipun Rusia merupakan negara terbesar di dunia, Lavrov menekankan posisinya sebagai bagian dari Eurasia. Ia mengkritik upaya membangun keamanan di wilayah ini yang selalu berfokus hanya pada “bagian barat Eurasia, yang disebut Eropa.” NATO, dalam pandangannya, hanyalah struktur yang dipimpin AS yang tidak pernah mengizinkan Eropa bertindak mandiri. “Amerika tidak bermaksud membiarkan Eropa independen, sambil terus mengawasi sekutunya sendiri,” jelasnya.

Ironisnya, kata Lavrov, negara-negara Eropa menggambarkan Rusia sebagai negara yang kelelahan secara militer dan ekonomi, namun di saat bersamaan bersiap menghadapi serangan dari Rusia yang sama. “Ini adalah diplomasi yang menyedihkan,” ujarnya. Ia menilai Eropa “terjebak dalam perangkap sendiri” dengan bersikap tanpa kompromi terhadap Rusia. “Yang mereka lakukan sekarang hanyalah mencoba menyabotase negosiasi perdamaian Ukraina yang akhirnya mulai terbentuk antara Rusia dan AS, dan kini diikuti perwakilan Ukraina,” tandas Lavrov.

Read Entire Article
Politics | | | |