Media Sosial: Penggerak Konsumtif dan Penyebar Tren Hidup Hemat

8 hours ago 8

Frugal living vs flexing, “perang” gaya hidup di media sosial.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA, – Antropolog Indonesia Prof. Dr. Semiarto Aji Purwanto menilai media sosial memiliki peran ganda dalam membentuk pola konsumsi generasi muda. Pada satu sisi, media sosial mendorong gaya hidup konsumtif, namun di sisi lain juga menjadi ruang penyebaran tren frugal living dan literasi finansial.

"Media sosial itu memang instrumen yang paling efektif untuk mendorong pola hidup konsumtif," kata Semiarto kepada ANTARA, Jumat. Menurut Guru Besar Antropologi Universitas Indonesia ini, media sosial kini menjadi ajang bagi individu untuk menampilkan pencapaian dan gaya hidup di hadapan publik, fenomena yang dikenal sebagai economy of appearance.

Dalam situasi ini, masyarakat terdorong untuk menunjukkan pencapaian dan identitas diri melalui media sosial. "Dunia kita sekarang ini memang harus ada sesuatu yang kita tunjukkan," ujarnya.

Semiarto mengungkapkan bahwa pencapaian tersebut sering kali terkait dengan aspek ekonomi dan gaya hidup, seperti nongkrong di tempat tertentu atau membeli barang terbaru. Akibatnya, standar sosial di masyarakat meningkat karena orang terus membandingkan diri dengan pencapaian orang lain.

Ia menambahkan, "Media sosial itu kemudian mendorong kita membandingkan diri kita dengan apa yang dicapai orang lain." Kondisi ini memicu keinginan untuk mengikuti tren secara cepat, termasuk dalam konsumsi barang dan gaya hidup.

Meski demikian, media sosial juga memiliki potensi sebagai ruang penyebaran narasi tandingan yang mendorong gaya hidup lebih hemat dan sadar finansial. Konten mengenai budgeting, frugal living, hingga tantangan seperti no buy challenge mulai berkembang di berbagai platform digital.

"Media sosial juga bisa menjadi kontra narasi," kata Semiarto. Ia menekankan pentingnya peran influencer dalam membentuk perilaku konsumsi masyarakat, dan mengusulkan perlunya lebih banyak figur yang mendorong literasi finansial dibanding konsumsi berlebihan.

"Kita perlu influencer yang bukan mendorong konsumsi tetapi mempromosikan financial literacy," ujarnya.

Konten ini diolah dengan bantuan AI.

sumber : antara

Read Entire Article
Politics | | | |