Gaya Hidup Frugal Living di Kalangan Generasi Muda Berpotensi Bertahan

10 hours ago 8

Frugal living bisa bertahan karena anak muda makin selektif konsumsi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA, – Antropolog Indonesia, Prof. Dr. Semiarto Aji Purwanto, menilai tren frugal living atau gaya hidup hemat berpotensi bertahan dalam jangka panjang. Hal ini seiring dengan meningkatnya kesadaran finansial dan pola konsumsi selektif di kalangan generasi muda.

Menurut Semiarto, meskipun tren hidup hemat saat ini bisa berubah seiring perkembangan gaya hidup dan estetika, prinsip hidup hemat dan konsumsi yang lebih rasional kemungkinan tetap bertahan. Ini karena generasi muda semakin sadar akan pentingnya pengelolaan keuangan.

"Kesadaran finansial kita kan makin tinggi. Kesadaran untuk menabung, untuk budgeting," ujarnya ketika dihubungi ANTARA pada Jumat.

Semiarto menjelaskan bahwa kondisi ini dipengaruhi oleh pola kerja berbasis gig economy yang membuat pendapatan generasi muda cenderung tidak selalu stabil. "Kita hidup di dalam konteks ekonomi yang berbasis gigs. Ada kalanya punya uang cukup banyak, tapi ada kalanya kosong," katanya.

Karena itu, generasi muda semakin selektif dalam menentukan prioritas pengeluaran, lebih mengutamakan pengalaman daripada kepemilikan aset. "Prioritas sekarang memang bukan pada kepemilikan, tapi pada pengalaman dan well being," ujar Semiarto.

Ia menambahkan bahwa kebutuhan akan kenyamanan kini lebih fleksibel, dengan banyak layanan yang memungkinkan masyarakat menikmati fasilitas tertentu tanpa memiliki secara permanen. "Kita bisa tinggal di apartemen atau sewa. Pilih kendaraan online premium tanpa harus beli mobil premium," katanya.

Sementara itu, aspek yang kemungkinan berubah lebih cepat adalah frugal living sebagai tren estetika, seperti gaya berpakaian atau tampilan visual yang saat ini cenderung sederhana dan minimalis. "Yang mungkin berubah cepat adalah frugal living sebagai tren estetika," ujarnya.

Namun, prinsip efisiensi dan konsumsi selektif kemungkinan tetap bertahan, karena masyarakat urban semakin adaptif terhadap tekanan ekonomi perkotaan. "Praktik efisiensi ini kayaknya masih akan tetap tinggi karena faktor-faktor struktural tadi," kata Semiarto.

Konten ini diolah dengan bantuan AI.

sumber : antara

Read Entire Article
Politics | | | |