Man Jadda Wajada: Agama dan Harapan Masa Depan

3 hours ago 5

Oleh : Muhammad Turhan Yani, Guru besar Universitas Negeri Surabaya dan Ketua LAKPESDAM-PWNU Jawa Timur

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menyongsong datangnya bulan Suci Ramadhan 1447 H penting disambut dengan perasaan bahagia dan penuh optimis melihat masa depan. Allah sebagai Tuhan Sang Pencipta dalam beberapa Firman-Nya telah banyak menyeru kepada umat manusia untuk meraih sukses, baik sukses di dunia maupun di akhirat sebagaimana termaktub dalam Alquran surat Al-Qashash ayat 77. Pesan moral yang terkandung di dalamnya merupakan spirit of life bagi umat beriman yang dibarengi dengan ikhtiar man jadda wajada, barangsiapa bersungguh-sungguh, akan memperolehnya.

Pada dasarnya manusia menginginkan sukses dalam segala aspek kehidupannya, akan tetapi tidak semua manusia dapat meraihnya. Mengapa demikian? Karena di dalam diri manusia tidak semuanya tumbuh spirit of life yang dibarengi ikhtiar. Untuk dapat meraih kesuksesan dalam berbagai hal, Allah menyeru agar manusia selalu bersungguh-sungguh dalam meraih apa yang dicita-citakan sebagaimana dinyatakan dalam Firman-Nya “Wajahiduu Fillahi Haqqa Jihadihi” (QS. Al Hajj:78). 

Sang Pencipta sangat peduli kepada hamba-Nya, namun tidak semua hamba bersyukur kepada-Nya. Di antara kepedulian Allah kepada manusia dinyatakan dalam bentuk seruan, pemberian karunia atau nikmat, dan pemberian kesempatan hidup. Seruan yang dimaksud adalah seruan agar manusia selalu bersungguh-sungguh dalam meraih cita-citanya dan sungguh-sungguh dalam meniatkannya. Niat pun penting ditanamkan dengan sungguh-sungguh, tanpa niat yang sungguh-sungguh, cita-cita yang diinginkan sulit terwujud. Tiada kesuksesan tanpa kesungguhan, tiada kesungguhan tanpa perjuangan, tiada perjuangan tanpa diniatkan, tiada niat tanpa keikhlasan. 

Kesuksesan tidak akan datang dengan sendirinya, ia datang dengan cara diraih secara sungguh-sungguh, ia akan datang kapan saja dan di mana saja, ia datang menghampiri dalam waktu cepat atau lambat bergantung pada apa yang kita usahakan dan kehendak-Nya. Setiap orang akan merasakan kepuasan atas kesuksesan yang telah diraihnya, bentuk kesuksesan setiap orang berbeda satu sama lainnya. 

Setiap orang suatu saat pasti akan meraih kesuksesan sesuai takdir dan kehendak-Nya, cepat atau lambat kesuksesan akan datang asalkan dilakukan dengan sungguh-sungguh dan meniatkan dengan ikhlas. Oleh karena itu tidak patut bagi seseorang untuk menghambat kesuksesan orang lain karena Tuhan memberi jalan kesuksesan sendiri-sendiri kepada hamba-Nya sesuai kadar kesuksesan masing-masing, ada ukuran kesuksesan untuk pegawai, petani, pedagang, pejabat, dan lain sebagainya. Tanamkan niat sedalam-dalamnya sebagaimana kuatnya akar yang tertanam menghujam ke dalam tanah, dan raihlah cita-cita setinggi langit seraya berusaha dan menengadahkan tangan kepada-Nya, dan berusahalah dengan sungguh-sungguh sebagaimana ingin minum karena kehausan, dan bertawakal serta beribadahlah kepada-Nya niscaya apa yang dicita-citakan akan dikabulkan.

Agama senantiasa mendorong pemeluknya untuk sukses dan meraih apa yang dicita-citakan, asalkan yang dicita-citakan itu mulia dalam konteks agama dan kemanusiaan, bukan sukses untuk membohongi, sukses untuk korupsi, sukses untuk manipulasi, sukses menghambat orang lain, dan sukses dalam arti negatif lainnya, karena sukses yang demikian hanya suksesnya hawa nafsu, bukan sukses yang didasarkan hati nurani.

Alquran sering mengingatkan kepada umat manusia agar dalam memperoleh kesuksesan dilakukan dengan cara dan proses yang benar, tidak dengan cara manipulasi, intimidasi, dan cara-cara lain yang tidak diridhai Ilahi. Sebab dalam ajaran agama tidak ada gunanya kesuksesan yang demikian, kecuali hanya untuk kepuasan sesaat yang bersifat duniawi atau material. Ramadan sebagai salah satu momentum penting untuk muhasabah (introspeksi) atas apa yang kita lakukan selama ini.

Alquran menyeru kepada umat manusia untuk meraih kesuksesan yang bersifat haqiqi, kesuksesan inilah yang dapat membuat ketentraman dan ketenangan jiwa manusia. Kesuksesan haqiqi tidak diraih dengan cara-cara yang tidak benar. Kesuksesan haqiqi tidak diraih dengan cara mengorbankan atau merugikan orang lain. Kesuksesan haqiqi tidak diraih dengan hawa nafsu, akan tetapi diraih dengan hati nurani.

Kesuksesan dan kebahagiaan haqiqi

Kesuksesan akan mengantarkan kepada kebahagiaan. Kebahagiaan bersifat batiniah, setiap orang akan merasakan kebahagiaan yang berbeda. Kesuksesan dan kebahagiaan pegawai berbeda parameter dan kadarnya dengan kesuksesan petani, pedagang, dan lain sebagainya. Meskipun dalam profesi yang sama, parameter kesuksesan setiap orang juga berbeda, bergantung pada sikap spiritual, yaitu rasa bersyukur dan qana’ah (tidak rakus).

Agama memberi motivasi kepada manusia untuk mencapai atau meraih kesuksesan yang haqiqi (sesungguhnya). Parameter kesuksesan haqiqi terletak pada bagaimana cara dan proses meraih kesuksesan, apakah diraih dengan cara dan proses yang benar atau tidak. Kalau seseorang sukses akan tetapi diraih dengan cara dan proses yang tidak benar, berarti sama dengan kesuksesan nisbi atau semu, karena kesuksesan yang demikian, cepat atau lambat akan menipu yang bersangkutan karena pada hati nuraninya bergejolak.

Parameter kesuksesan haqiqi juga terletak pada bagaimana kesuksesan yang telah diraih itu digunakan atau dimanfaatkan bagi orang lain (maslahatul ummah). Pertanyaannya adalah apakah kesuksesan kita selama ini hanya dirasakan untuk diri sendiri ataukah juga dapat bermanfaat bagi orang lain? Rumusnya adalah kesuksesan yang dapat memberi manfaat bagi diri sendiri dan orang lain sama dengan kesuksesan haqiqi. Sebaliknya kesuksesan yang hanya dapat memberi manfaat bagi dirinya sendiri saja sama dengan kesuksesan nisbi (semu).

Dalam agama diajarkan, kesuksesan yang diraih manusia hendaknya diorientasikan pada dua kesuksesan sebagaimana yang sering dimohonkan oleh manusia dalam do’a sapu jagat yaitu “Rabbanaa Aatina Fiddunyaa Hasanah wafil Akhirati Hasanah”. Dua kesuksesan yang dimaksud adalah kesuksesan di dunia sesuai dengan bidang dan profesi masing-masing dan juga kesuksesan di akhirat yang menjadi terminal kehidupan terakhir manusia, sukses dalam keadaan selamat dan mendapatkan derajat mulia di hadapan-Nya. Hadirnya bulan Suci Ramadhan menjadi momentum yang tepat untuk meraih dua kesuksesan dan kebahagiaan tersebut.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Politics | | | |