REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) memperkuat penjajakan kerja sama dengan Australia di bidang olahraga dan kepemudaan. Kolaborasi tersebut diarahkan untuk membangun sistem pembinaan atlet muda yang berkelanjutan sekaligus menjaga keberlangsungan program pertukaran pemuda kedua negara.
Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia Erick Thohir membahas kerja sama tersebut bersama Duta Besar Australia untuk Indonesia Rod Brazier di Media Center Kemenpora, Jakarta, Selasa (11/8/2026). Salah satu fokus pembicaraan adalah pengembangan jalur pembinaan atlet mulai dari tingkat akar rumput, identifikasi bakat, hingga level elite.
Indonesia juga melihat pengalaman Australia dalam membangun sistem olahraga berbasis ilmu pengetahuan atau sport science sebagai peluang untuk memperkuat ekosistem pembinaan nasional. Kerja sama dapat mencakup identifikasi bakat, peningkatan kapasitas pelatih, pengelolaan fasilitas, hingga penerapan sport science dan kedokteran olahraga.
"Australia merupakan mitra penting bagi Indonesia. Kami melihat potensi besar untuk memperluas kolaborasi, khususnya dalam identifikasi bakat, pelatihan pelatih, tata kelola fasilitas olahraga, hingga penerapan sport science dan kedokteran olahraga," ujar Erick.
Sebagai langkah konkret, Kemenpora mengusulkan pilot project pembinaan atlet muda melalui pertukaran atlet, training center bersama, serta program magang bagi pelatih dan administrator olahraga. Program tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan kemampuan teknis atlet, tetapi juga membuka peluang dual career agar atlet tetap memperoleh akses pendidikan dan mempersiapkan karier setelah tidak lagi bertanding.
Untuk mendukung pengembangan tersebut, Indonesia mendorong perluasan akses Beasiswa Australia Awards (AAS) bagi atlet muda. Dengan begitu, pembinaan prestasi dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kapasitas pendidikan dan karier atlet.
Selain olahraga, kedua pihak membahas finalisasi kesepakatan Australia-Indonesia Youth Exchange Program (AIYEP). Program pertukaran pemuda yang telah berjalan sejak 1982 itu kini memasuki tahap tinjauan akhir oleh Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Australia sebelum dilanjutkan ke proses penandatanganan resmi.
Pelaksanaan AIYEP 2026 juga menjadi perhatian karena adanya penyesuaian anggaran. Meski alokasi dana untuk fase fisik tahun ini terbatas, Kemenpora dan Kedutaan Besar Australia sepakat terus berkonsultasi agar program tersebut tetap berkelanjutan dan hubungan antarmasyarakat kedua negara tetap terjaga.
Di sisi lain, Kemenpora menyiapkan sejumlah agenda kepemudaan nasional pada Oktober 2026. Wirasena Youth Camp akan digelar pada 21–31 Oktober dengan 168 peserta, Indonesia Youth Summit pada 28–29 Oktober yang ditargetkan diikuti sekitar 5.000 pemuda, serta National Debate Competition pada 29–30 Oktober dengan 100 peserta.
Melalui kerja sama dengan Australia, Kemenpora berharap hubungan bilateral di bidang olahraga dan kepemudaan semakin kuat. Kolaborasi tersebut diharapkan turut melahirkan atlet dan generasi muda Indonesia yang tidak hanya berprestasi, tetapi juga memiliki kapasitas pendidikan, kepemimpinan, dan daya saing global.

4 hours ago
6
















































